Oktober 15, 2026
Proyek jalan tol Gilimanuk-Mengwi (foto: Istimewa)

Balidalamberita.com, BADUNG – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dody Hanggodo, akhirnya buka suara soal nasib proyek Tol Gilimanuk–Mengwi yang tak kunjung dimulai pembangunannya.

Menurut Dody, alasan utama proyek strategis nasional (PSN) itu belum bergerak adalah karena minat investor masih rendah. Pasalnya, kepadatan lalu lintas di Pulau Bali justru tidak berada di jalur yang dilalui tol tersebut.

“Tol Gilimanuk–Mengwi itu belum banyak diminati investor karena traffic padatnya bukan di situ. Jadi memang masih terus dibahas, masih dalam proses,” ujar Dody di Jakarta Selatan, Jumat (31/10/2025).

Saat ini, proyek tol tersebut masih dalam tahap due diligence, yaitu proses kajian menyeluruh sebelum proyek benar-benar bisa dijalankan.

“Sudah kami tawarkan ke beberapa investor jalan tol, tapi memang masih perlu pembahasan lebih lanjut,” tambahnya.

Belum Konstruksi, Padahal Sudah Sempat Groundbreaking

Padahal, Tol Gilimanuk–Mengwi digadang-gadang sebagai proyek penting untuk membuka akses ke wilayah Bali bagian barat dan utara, daerah yang selama ini relatif kurang tersentuh pembangunan besar.

Tol ini juga menjadi satu-satunya PSN di luar Jawa dan Sumatera yang belum beroperasi — bahkan belum memasuki tahap konstruksi.

Proyek yang sempat menjadi sorotan publik ini sebenarnya sudah melalui tahap groundbreaking atau peletakan batu pertama pada September 2022 dengan seremoni yang cukup meriah.

Namun, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang ditunjuk, yakni PT Tol Jagat Kerthi Bali, kemudian memilih mundur dari proyek tersebut.

Butuh Suntikan Dana Pemerintah

Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR, Rachman Arief Dienaputra, mengungkapkan bahwa proyek ini menghadapi tantangan besar dalam sisi pendanaan. Alasannya, tol sepanjang lebih dari 90 kilometer itu memerlukan Dukungan Konstruksi (Dukon) yang cukup besar dari pemerintah.

Dukon merupakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang digunakan untuk menanggung sebagian biaya atau risiko konstruksi, agar proyek tetap menarik di mata investor.

Besarnya kebutuhan Dukon ini menandakan bahwa proyek tersebut belum dinilai layak secara finansial jika hanya mengandalkan investasi swasta murni. Karena itu, peran pemerintah menjadi sangat penting untuk memastikan proyek bisa berjalan dan tetap feasible.

Masih Ada Harapan untuk Dihidupkan Kembali

Meski nasib Tol Gilimanuk–Mengwi belum pasti, pemerintah masih membuka peluang untuk melanjutkan proyek ini.

Rachman Arief menegaskan, kelanjutan pembangunan akan sangat bergantung pada kebutuhan strategis nasional, terutama bila pemerintah berencana mempercepat pengembangan Bali bagian utara.

Sinyal tersebut menimbulkan harapan bahwa proyek Tol Gilimanuk–Mengwi mungkin akan “dihidupkan kembali” di masa mendatang, terlebih jika rencana besar pembangunan Bandara Internasional Baru di Bali Utara benar-benar terealisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *