Ilustrasi tradisi Ngurek (Sumber foto: X @kumendan007)
Balidalamberita.com, DENPASAR – Pulau Bali tak hanya dikenal karena keindahan alam dan budayanya yang khas, tetapi juga karena sejumlah tradisi ekstrem yang masih lestari hingga kini. Salah satunya adalah tradisi Ngurek, sebuah ritual sakral yang mengharuskan seseorang menusuk tubuhnya sendiri dengan keris.
Tradisi ini juga dikenal dengan sebutan Ngunying, dan sudah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali. Ngurek berakar dari kepercayaan masyarakat Hindu Bali dalam pengabdiannya kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Menurut dapobas.kemdikbud.go.id, kata Ngurek berasal dari kata Urek yang berarti melubangi atau menusuk. Ritual ini dilakukan dengan cara menusukkan keris, tombak, atau benda tajam lainnya ke bagian tubuh, seperti dahi, dada, leher, hingga mata. Ajaibnya, para pelaku tidak merasakan sakit, tidak berdarah, dan tidak mengalami luka sedikit pun. Hal ini dipercaya karena mereka dalam keadaan kerasukan roh leluhur yang menjaga tubuh mereka agar kebal terhadap senjata.
Sebelum prosesi utama, para peserta harus melalui tiga tahapan dalam tradisi Ngurek, yaitu:
1. Nusdus
Pada tahap ini, pemuka upacara membakar dupa atau bahan beraroma kuat untuk merangsang peserta agar mudah mengalami kerasukan. Asap dan aroma khas ini dipercaya dapat membantu roh leluhur mendekati tubuh peserta.
2. Masolah
Ketika peserta telah kerasukan, mereka akan mulai menari diiringi alunan gamelan, koor kecak, atau gending tertentu. Di tahap ini, roh leluhur dipercaya telah memasuki tubuh mereka. Dalam kondisi tidak sadar, peserta kemudian menjalankan inti ritual: menusukkan keris ke tubuh mereka berkali-kali, terutama di area atas pusar. Kendati terlihat ekstrem, tidak ada luka atau darah yang keluar. Keris pun seolah tidak menyentuh kulit pertanda bahwa roh leluhur sedang melindungi mereka.
3. Ngaluwur
Tahap terakhir adalah mengembalikan kesadaran peserta. Para pemuka adat melakukan ritual khusus untuk “menarik kembali” roh leluhur dari tubuh para peserta, agar mereka kembali ke jati dirinya.
Tradisi Ngurek diyakini tidak hanya sebagai bentuk pengabdian spiritual, tetapi juga sebagai cara mengundang kehadiran Ida Bhatara dan para Rerencangan prajurit gaib yang diyakini hadir untuk menerima persembahan dalam rangkaian upacara adat.
