Potre Desa Bresela (budayabali.com).
Balidalamberita.com, GIANYAR – Desa Bresela yang terletak di Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali, menyimpan beragam keunikan budaya dan kerajinan tangan yang menjadi identitas khasnya. Nama “Bresela” berasal dari dua kata yaitu beras dan sela, yang mencerminkan desa subur sebagai pusat penyediaan pangan pada masa perjalanan suci Rsi Markandeya.
Berikut tiga keunikan utama yang menjadikan Desa Bresela istimewa:
1. Tradisi Sate Banten, Simbol Harmoni dan Warisan Leluhur
Tradisi sate banten atau ngaturang sodan di Desa Bresela bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan bentuk kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Warga desa secara gotong royong menyiapkan banten atau sesajen yang terdiri atas bahan-bahan seperti daging, buah, dan rempah. Sajian seperti sate, urutan, dan tum disiapkan dengan penuh ketulusan dan makna simbolis yang mendalam.
Proses persiapan banten mempererat ikatan sosial antarwarga dan menjadi penanda kuat identitas budaya Hindu yang hidup di Bresela.
2. Sentra Dulang Ukir Terbesar di Bali
Bresela dikenal sebagai penghasil dulang ukir terbesar di Bali, dengan pasar yang mencakup skala nasional hingga internasional.
Dulang ukir, atau nampan berukir khas Bali, dibuat secara turun-temurun dan menjadi mata pencaharian utama warga. Prosesnya dimulai dari pemilihan kayu berkualitas seperti mahoni dan suar, yang kemudian diukir manual dengan teknik tradisional.
Kerajinan ini tidak hanya bernilai seni tinggi, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam upacara adat dan keagamaan. Seni ukir diajarkan kepada generasi muda agar tetap lestari sebagai warisan budaya Desa Bresela.
3. Desa dengan Banyak Pura, Menyimpan Jejak Sejarah Panjang
Keberadaan 25 pura di seluruh wilayah desa menjadi bukti kuat bahwa Desa Bresela diyakini sebagai salah satu desa tertua di Bali.
Setiap pura memiliki sejarah dan fungsi spiritual masing-masing, serta menjadi saksi bisu perjalanan panjang desa dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana).
Pura-pura ini tidak hanya menjadi tempat persembahyangan, tetapi juga pusat kegiatan adat yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi.
