Keindahan Desa Celuk yang luar biasa (Sumber foto: Tripadvisor)
Balidalamberita.com, GIANYAR – Desa Celuk, yang terletak di sebelah barat daya Kota Gianyar, merupakan desa dinas yang terkenal dengan kerajinan peraknya dan warisan budaya yang kuat. Desa ini terbentuk dari pemekaran Desa Guwang pada era 1960-an dan kini berada di wilayah Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.
Dengan luas wilayah 246,66 hektare, Desa Celuk mencakup area sawah, tegalan, permukiman, serta deretan toko kerajinan yang ramai dikunjungi wisatawan. Jaraknya sekitar 2 km dari pusat Kecamatan Sukawati, 16 km dari Kota Gianyar, dan 12 km dari Denpasar sebagai ibu kota provinsi.
Yang menarik, Desa Celuk terdiri dari tiga desa adat, masing-masing memiliki identitas budaya dan sejarah tersendiri. Ketiganya juga berfungsi sebagai banjar dinas sekaligus banjar adat. Berikut penjelasannya:
1. Desa Adat Celuk
Desa Adat Celuk merupakan pusat utama dari wilayah ini. Selain terkenal sebagai sentra perak, desa ini juga menjadi pusat aktivitas adat dan budaya. Masyarakatnya masih memegang teguh nilai-nilai tradisional, termasuk dalam pelaksanaan upacara dan struktur kelembagaan adat.
2. Desa Adat Tangsub
Desa Adat Tangsub terletak di sebelah barat wilayah Camenggaon. Desa ini memiliki nilai penting dalam dunia seni pewayangan Bali.
Dalang terkenal yang dikenal dengan nama “Dalang Tangsub” atau I Binder, tinggal dan berkarya di desa ini. Karya-karyanya dalam seni pedalangan telah menginspirasi banyak seniman muda Bali.
Desa Tangsub juga memiliki identitas budaya yang kuat, terutama dalam seni pertunjukan dan pelestarian cerita rakyat Bali melalui wayang.
3. Desa Adat Camenggaon
Desa Adat Camenggaon menyimpan jejak sejarah yang berkaitan dengan keturunan Arya Cameng. Awalnya, wilayah ini menjadi permukiman keluarga Arya Cameng, namun mereka kemudian pindah ke Peguyangan, Badung. Nama “Camenggaon” terbentuk dari dua kata: Cameng (nama keluarga) dan Gaon yang berasal dari mekaon atau berpindah tempat.
Desa ini terbagi menjadi tiga tempekan (sub-bagian banjar adat), yakni:
- Tempekan Cakra, yang berbatasan langsung dengan Desa Adat Guwang,
- Tempekan Mengaling, yang berbatasan dengan Desa Adat Tangsub,
- Tempekan Tangluk Mas, yang terletak di bagian tengah desa.
Menariknya, I Ketut Bangbang Gde Rawi, maestro sastra wariga dan kalender Bali, berasal dari desa ini. Putranya, Made Bambang Suartha, juga melanjutkan kiprah budaya dan spiritualnya di Desa Celuk.
Tiga desa adat di Desa Celuk—Celuk Tangsub, dan Camenggaon—bukan hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga rumah bagi tokoh-tokoh besar dalam seni dan spiritualitas Bali. Dengan paduan antara budaya, sejarah, dan seni, Desa Celuk layak menjadi tujuan wisata budaya yang sarat makna.
