
Melihat keunikan dan keindahan budaya dan ornamen ciri khas Bali di Pulau Bali sendiri tentu sudah biasa. Tetapi bagaimana jika ornamen, bahasa dan budaya Bali sehari hari ditemui di China Tiongkok? Hal ini dikupas di Channel Youtube Rudy Chen dan sedang viral dikalangan netizen.
Fenomena yang sangat unik serta menarik ini ditemui di Kampung Bali Nangshan, Shuangyang, Quanzhou, Fujian.
Perjalanan Rudy Chen dan Nining dimulai dari pintu gerbang utama masuk kawasan, yang berbentuk Candi Bentar menjulang tinggi.
Pertama masuk kawasan Kampung Bali, Rudy dan Nining sudah disambut restoran Desa Bali. “Sayangnya masih tutup ya, karena sekarang belum jam makan malam”ujar Rudy Chen kepada Nining.
Perjalanan Rudy sampai di bangunan tempat warga melaksanakan kegiatan atau berkumpul di sore hari yang diberi nama Taman Budaya dan Adat Bali Shuangyang, Quanzhou /Bali Folk Culture Park.

Keterkejutan mereka berdua masih berlanjut ketika mereka menemukan bangunan dengan atap khas Bali masih dilestarikan dan satu balai khas Bali yang diberi nama Balai Kenangan Masa Lampau.
Tiba di bangunan layanan lansia pemerintah China, mereka bertemu dengan pengurus rumah layanan dan sekelompok bapak-bapak yang sedang bermain Mahyong.

Pengurus layanan lansia tersebut menjelaskan, bahwa 100 persen warga yang ada di Kampung Bali adalah perantauan China yang kembali dari Bali ke Tiongkok sekitar Tahun 1961.
Saat ditanya oleh Rudy, apakah bisa bahasa Indonesia “Bahasa Bali” sahut singkat salah seorang bapak sambil asik bermain Mahyong. “Saya berasal dari Bali, Klungkung” ujarnya lagi.
Menurut Petugas layanan lansia, sebagian besar warga yang aktif saat ini merupakan generasi kedua, namun masih fasih berbahasa Bali dan menguasai tentang adat istiadat Bali. “Anak-anak disini belajar tarian Indonesia, menggunakan pakaian Indonesia dan menari bersama-sama”jelasnya.

Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan kembali ke Restoran Desa Bali untuk bertemu dengan pemilik restoran yang juga merupakan generasi kedua. “Ini adiknya, sudah jarang berbahasa Bali, dia lagi panggil kakaknya (keke)nya, yang lebih bisa bahasa Bali”jelas Nining kepada Rudy, menunjuk seorang keturunan Bali yang bolak balik sedang menelpon seseorang.
Selain menjual makanan, Restoran ini juga menyediakan pakaian Indonesia dan pakaian khas Bali. Ada juga makanan dan minuman seperti krupuk udang, Kopi Kapal Api dan makanan khas Indonesia lain.
Akhirnya Rudy bertemu dengan Ibu Zheng salah satu warga yang fasih berbahasa Bali. “Saya adalah generasi kedua dari Tionghoa Perantauan yang kembali dari Indonesia, orang tua saya dulunya dari Bali”jelasnya.

Ketika ditanya apakah masih bisa berbahasa Indonesia, Ibu Zheng menyampaikan bisa dikit dikit. “Kami disini lebih fasih berbahasa Bali daripada Bahasa Indonesia”tandasnya dengan bahasa Indonesia campur bahasa Mandarin.
Orang tua mereka yang merupakan perantauan Indonesia, kembali ke Tiongkok pada Bulan April tahun 1961 dan membangun perkampungan secara berkelompok di lokasi tersebut. “Semua berkumpul di Kampung Nangshan dan menggunakan bahasa Bali pada percakapan sehari-hari”jelasnya.

Menurut Ibu Zheng, 95 persen warga di Kampung Nangshan berasal dari Bali dan 85 persen memiliki darah Bali. “Misalnya nenek saya adalah orang Bali asli dan pemilik restoran tadi juga memiliki garis keturunan Bali”ujar Ibu Zheng.
Bahkan Ibu Zheng dengan bangga mengatakan, wajahnya pun masih ada ciri rupa orang Bali “lihat saja wajah saya, masih ada rupa orang Bali”jelasnya dengan bangga.
Meskipun Ibu Zheng mengaku lahir di Fujian namun, dia begitu fasih dengan logat Bali yang kental “negak malu negak”katanya mempersilahkan Rudy dan Nining duduk.
Selanjutnya Ibu Zheng bercerita bahwa nenek, paman dan saudaranya masih di Indonesia. “ayahku bersaudara belasan, tapi yang balik ke Tionghoa hanya 2 orang yaitu ayah dan tante” jelasnya.

Penasaran, Rudy menanyakan apakah ketika ke Bali, Ibu Zheng bisa berbahasa Bali? “Tentu, kami fasih berbahasa Bali, pemilik restoran tadi juga lancar bahasa Bali, tapi kalau Indonesia kurang”jelasnya dalam bahasa Mandarin.
Dijelaskan oleh Ibu Zheng, anak anaknya juga saat ini fasih bahasa Bali karena mendengar orang tuanya. “Kenapa, bapak tahu kalau ada Kampung Bali disini?”Tanya Ibu Zheng penasaran. Nining menjelaskan, bahwa dia mengantar Rudy untuk mengunjungi dan mempromosikan hal unik di Tiongkok termasuk keberadaan Kampung Bali di Fujian.
Mesti dijelaskan bahwa di Pulau Hainan, juga terdapat Kampung Bali, tapi menurut Ibu Zheng di Hainan hanya ada sedikit orang Bali, tapi pemerintah memfasilitasi untuk mendirikan Kampung Bali. Berbeda dengan di Fujian yang memang benar – benar kumpulan warga Bali yang membangun dan terus mempertahankan Budaya Bali sebagai warisan dari orang tua atau kakek nenek mereka.

Menurut Bapak Fu yang merupakan Kepala Desa di Kampung Bali Nangshan yang ikut serta dalam obrolan, dia sendiri adalah generasi kedua yang lahir di Fujian, sedangkan orangtuanya lahir dan besar di Bali. “saya dulu pernah ke Bali dan menyampaikan kepada pemerintah disana bahwa ada Kampung Bali di Quangzhou Fujian, awalnya tidak dipercaya”ujarnya tertawa.
Menurut Bapak Fu, ada rencana untuk membawa tambahan ornamen berupa patung batu asli Bali ke Fujian, ini masih dipastikan bagaimana caranya agar bisa dibawa utuh dan mendapatkan yang pas dengan ornamen dan bahan yang sudah ada di Kampung Nangshan.

Perjalanan Rudy Chen dan Nining akhirnya sampai di toko kue Bali. Ada beberapa jenis kue yang dijual, salah satunya adalah “Kaliadrem”. Pemilik toko kue tersebut bercerita, orangtuanya berasal dari Tegallalang-Gianyar. “Sebagian resep ini adalah warisan ibu saya karena dulu juga jualan kue”ujarnya. Selain Kaliadrem, toko ini juga menjual dadar gulung, bika ambon dan berbagai penganan lain.

Kembalinya para perantauan Tionghoa, terjadi sekitar tahun 1960 – 1961 setelah adanya kebijakan Pemerintah Tiongkok untuk memfasilitasi para perantauan yang ingin kembali pulang. Selain diberikan tempat tinggal, pemerintah juga memberikan fasilitas lain sebagai kebijakan negara. Hal ini membuat ribuan perantauan Tiongkok dari berbagai daerah di Indonesia untuk kembali pulang ke negara Tiongkok dengan menumpang kapal yang disediakan oleh Pemerintah Tiongkok.

Rudy Chen dan Nining dalam kesimpulannya menyatakan sangat kagum dengan warga Kampung Bali Nangshan karena mampu terus mempertahankan Budaya dan Adat Bali meskipun dalam waktu yang sudah cukup lama dan generasi yang sudah berbeda dari yang pindah dari Pulau Bali. “Ini menunjukkan warga disini demikian bangga dan mencintai Adat dan Budaya Bali”ujarnya.
Baca terus www.balidalamberita.com untuk update berita tentang Kampung Bali diberbagai belahan dunia.
