
Balidalamberita.com, KARANGASEM – Tradisi Matigtig merupakan salah satu tradisi sakral yang berasal dari Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali.
Tujuan adanya tradisi adat Bali tersebut, yaitu: untuk memberikan penolakan mengenai wabah dan gerubug serta membersihkan batin masyarakat desa adat Bali dari pengaruh negatif.
Ritual ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali dan pelaksanaannya berlangsung di Jaba Pura Bale Agung, Banjar Desa Tengah, Desa Adat Bebandem.
Matigtig berasal dari Bahasa Bali tigtig yang merupakan “memukul berturut-turut”.
Prosesi Matigtig
Pada ritual ini, para peserta yang terdiri dari laki-laki yang memiliki keanekaragaman usia kerap berhadapan dan bergantian memukul punggung diantara 1 sama lainnya menggunakan papah biu atau pelepah pisang.
Pada prosesi ini, para peserta tidak mengenakan busana atasan, simbol yang sederhana dan keterbukaan jiwa dalam memperoleh keberkahan pada ritual tersebut yang berlangsung secara spontan.
Pada kesempatan ini, peserta bebas melawan proses yang dilaksanakan, namun tanpa kemarahan dan sikap negatif yang menciptakan pukulan.
Tradisi Matigtig diawali dengan upacara besar Mabiasa, yang merupakan ritual persembahan atau pembersihan yang berkaitan erat dengan Ida Bhatara di Desa Adat Bebandem dan Desa Adat Bugbug.
Upacara ini bertujuan untuk mengelilingi desa agar daerah tersebut memperoleh keberkahan kedamaian dan perlindungan.
Setelah upacara ini selesai, maka baru ritual Matigtig diadakan, semangat gotong royong dan kebersamaan warga.
Setelah prosesi Matigtig dilaksanakan, para peserta biasanya mempunyai bekas-bekas pukulan di sekitar tubuhnya, dalam bagian lengan dan punggung.
Bekas pukulan ini adalah tanda fisik dari keterlibatannya dalam tradisi sakral yang memiliki makna tersebut.
Meskipun memar dan kemerahan, bekas ini justru merupakan simbol keberanian dan pengorbanan dalam melakukan ritual untuk membersihkan diri dari unsur-unsur negatif.
Setelah prosesi diselesaikan, para peserta bisa diolesi ramuan tradisional untuk meredakan nyeri dan mempercepat proses dalam penyembuhan.
Bekas-bekas pukulan tersebut merupakan bagian untuk upaya peserta dalam menjaga keseimbangan alam serta keselamatan desa dari marabahaya.
Tidak hanya tradisi, Matigtig juga adalah manifestasi semangat ksatria bagi warga Bebandem dalam menjaga keseimbangan alam.
Tradisi ini memperlihatkan warga desa Bebandem tidak hanya peduli dalam kebersihan badan, tetapi kebersihan jiwa, menjadi langkah dalam menjaga harmonisasi alam dan jauh dari bahaya dalam desa tersebut.
Manfaat Tradisi Matigtig
Tradisi tersebut dipercaya sebagai sarana spiritual dalam menetralisir “musuh” bagi diri manusia, contohnya: pengaruh negatif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan batin.
Berdasarkan keyakinan masyarakat, matigtig bisa membantu menghilangkan Tri mala (3 kotoran jiwa), Sad ripu (6 musuh dalam diri), dan pengaruh negatif lainnya yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.
Selain itu, ritual Tradisi Matigtig dipercaya bisa membersihkan tubuh dari kotoran batin, yaitu: kemarahan, kebencian, serta ketamakan.
