Oktober 15, 2026
Ilustrasi Tradisi Maperang Gandu yang diadakan di Desa Adat Tumbak Bayuh (Sumber foto: tangkapan layar Instagram @badungpunyacerita)

Balidalamberita.com, BADUNG – Selain memiliki perang ketupat, Badung juga mempunyai tradisi unik lainnya, bernama tradisi Maperang Gandu.

Tradisi tersebut adalah warisan nenek moyang Desa Adat Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, yang sudah dilestarikan secara turun-temurun.

Tradisi ini kabarnya melibatkan sejumlah anak-anak dan krama langka, dan disepakati agar melibatkan para remaja untuk prosesi perang gandu sejak 2016 lalu.

Makna Tradisi Maperang Gandu

Tradisi Maperang Gandu adalah bentuk syukur dari warga Desa Adat Tumbak Bayuh karena dilimpahi keberkahan yang didapatkan selama ini atas segala usaha, baik dalam bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan.

Tradisi Maperang Gandu sebagai bagian penting dalam identitas budaya adat Bali dan spiritual masyarakat sekitar yang perlu dilestarikan dan diapresiasi hingga saat ini.

Pelaksanaan Tradisi Maperang Gandu

Tradisi tersebut dilaksanakan bertepatan dengan Tumpek Kandang atau Tumpek Uye yang menjadi wujud penghormatan kepada Tuhan.

Tradisi ini diselenggarakan bersamaan dengan pujawali yang ditunjukan terhadap Ida Bhatara yang berstana di Pelinggih Pan Balang Tamak, adalah bagian tidak terpisahkan berdasarkan makna Tumpek Kandang.

Pelinggih tersebut sebagai tempat penghormatan terhadap Ida Bhatara Siwa menurut kebebasan Rare Angon.

Walaupun tidak pasti kapan tradisi ini pertama kali diselenggarakan, tetapi diperkirakan sudah ada sejak berdirinya Pura Khayangan Tiga di Desa Tumbak Bayuh.

Prosesi yang diawali dengan pujawali terhadap Ida Bhatara di Pelinggih Pan Balang Tamak, selanjutnya dengan persembahyangan bersama.

Tradisi tersebut melibatkan beragam kalangan, mulai dari anak-anak sampai remaja, dengan simbol Rwa Bhineda yang dilambangkan dengan pertemuan usia dalam pendekatan pernikahan.

Dengan ikut dalam kegiatan tradisi tersebut, masyarakat Kabupaten Badung bukan hanya menjaga warisan leluhur mereka agar tetap hidup, namun juga sebagai penghormatan dan menghargai keberadaan spiritual pada kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *