Oktober 15, 2026
tarian penolak bala

penari Tarian Sanghyang Dedari (sumber foto: Instagram @sanggarseni.citradmyt)

Balidalamberita.com, KARANGASEM – Tarian Sanghyang Dedari adalah suatu tarian sakral yang Ada di Desa Adat Geriana Kauh yang orang-orang menyebutnya sebagai tarian penolak bala, bagi para petani.

Tarian Sanghyang Dedari adalah ritual sakral yang dipergunakan masyarakat adat dengan tujuan menolak bala terkhususnya bagi para petani supaya padi yang sudah ditanami tidak diserang hama.

Secara umumnya, arti kata penolak bala ini dapat menghalau aura negatif yang diperkirakan bisa masuk ke sekitar Desa Adat Geriana kauh tersebut.

Tarian tersebut kabarnya dipentaskan di desa adat tersebut dengan waktu setiap setahun sekali tepatnya pada April atau sasih kedasa.

Untuk penentuan pada waktu pentas yang berlangsung disesuaikan dengan waktu keluarnya bulir padi (embud) yang berasal dari padi taun yang sangat khas dari Desa ini.

Tari ini dipentaskan bersama 5-7 orang terpilih selama 2 minggu sebelum diadakannya pementasan.

Penari terpilih pada pementasan tersebut yaitu dipentaskan oleh anak-anak yang belum baligh atau belum dewasa (usia 8-11 tahun) karena dianggap sebagai seseorang yang masih suci.

Sebelum pementasan dimulai, akan melalui prosesi yang cukup panjang.

Bendesa Adat Geriana Kauh I Nyoman Subrata mengungkapkan beragam prosesi sebelum diadakannya pementasan.

Tiga hari jelang diadakannya ritual Sanghyang Dedari maka diadakan upacara matur piuning.

Upacara tersebut memiliki tujuan dalam memohon supaya diberikannya kelancaran ketika prosesi ritual Sanghyang Dedari berlangsung.

Ketika berlangsungnya hari pementasan tersebut, usai dilakukannya proses berhias, kemudian melanjutkannya dengan proses persembahyangan yang berlangsung di Pura Pejenengan.

Proses ngukup berlangsung di Pura Paibon, prosesi ini memiliki tujuan dalam permohonan supaya roh Sanghyang dapat turun kemudian merasuki tubuh dari para penari tersebut.

Usai roh Sanghyang tersebut merasuki tubuh dari penari tersebut, maka Tarian akan berlangsung di 2 lokasi berbeda yakni Catus Pata dan Pura Pejenengan. Durasi untuk pementasannya yaitu pada kisaran 2 jam.

Untuk 1 ritual yang, pada pementasan tarian tersebut maka akan dilakukan sekitar 3-5 kali dalam waktu selama 15 hari.

Sementara untuk prosesi yang terakhir yaitu dilakukan setelah 15 hari dinamakan prosesi nyineb yang memiliki makna yaitu: berkaitan dengan pengembalian roh Sanghyang.

Setelah seluruh prosesi tersebut terselenggara, maka seluruh piranti ataupun peralatan yang digunakan dalam tarian selanjutnya dipindahkan di pura Setra Sanghyang.

Para penari dari Tari Sanghyang Dedari akan menari dengan keadaan tidak sadar. Tetapi, tidak jarang ada penari yang tidak dapat melakukan pementasan.

Itulah tadi penjelasan singkat seputar tarian sakral yang Ada di Desa Adat Geriana Kauh yang ada di Bali, bernama Tarian Sanghyang Dedari.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *