Oktober 15, 2026
Pemandangan Bali yang menerapkan sistem Subak (Sumber foto : kemenparekraf.go.id edited by Adi Nata)

Balidalamberita.com, TABANAN – Ketika membicarakan Bali pikiran semua orang langsung tertuju pada keindahan pantai, pura megah, dan kebudayaan yang kaya.

Namun, di balik itu semua, terdapat sebuah sistem pertanian yang menjadi pilar kehidupan dan budaya masyarakatnya, yaitu sistem Subak.

Subak bukan sekadar cara mengelola sawah, melainkan sebuah manifestasi dari filosofi hidup warga Bali yang telah diakui oleh dunia.

Secara sederhana, Subak adalah organisasi irigasi tradisional yang dimiliki oleh masyarakat petani di Bali.

Organisasi ini memiliki otonomi penuh untuk mengelola dan mengatur sistem pengairan sawah secara adil dan merata.

Subak memiliki struktur organisasi yang unik, dipimpin oleh seorang Pekaseh atau Kelian yang bertugas mengawasi seluruh proses distribusi air.

Sistem Subak telah ada sejak abad ke-9 dan terus dilestarikan secara turun-temurun.

Setiap anggota Subak, yang disebut Krama Subak, memiliki hak dan kewajiban yang diatur dalam sebuah peraturan adat yang disebut Awig-awig.

Melalui sistem ini, petani secara mandiri dapat mengelola air dari hulu hingga hilir, memastikan setiap petak sawah mendapatkan pasokan air yang cukup, tanpa memandang letak geografisnya.

Filosofi Tri Hita Karana sebagai Fondasi Subak Keunikan Subak terletak pada fondasi filosofisnya, yaitu Tri Hita Karana.

Filosofi Hindu Bali ini menekankan pada tiga hubungan harmonis yang harus dijaga oleh manusia, yaitu:

Parahyangan

Hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. Dalam konteks Subak, ini terwujud dalam ritual dan upacara yang dilakukan di Pura Subak atau Pura Ulun Carik.

Para petani memohon restu kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran, agar hasil panen melimpah.

Pawongan

Hubungan harmonis antara manusia dengan sesamanya.

Subak mengajarkan prinsip gotong royong dan kebersamaan.

Pembagian air diatur melalui musyawarah, dan setiap permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan, menciptakan ikatan sosial yang kuat di antara para petani.

Palemahan

Hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan lingkungannya.

Sistem Subak mengajarkan para petani untuk mengelola air secara bijak, menjaga kelestarian lingkungan, dan hidup selaras dengan alam.

Sawah terasering yang berundak-undak, seperti yang terkenal di Jatiluwih, adalah contoh nyata dari bagaimana manusia beradaptasi dengan kontur alam tanpa merusaknya.

Berkat keunikan dan nilai-nilai luhurnya, pada tanggal 29 Juni 2012, UNESCO menetapkan Subak sebagai Warisan Budaya Dunia.

Pengakuan ini mencakup lanskap budaya Subak yang tersebar di lima kabupaten di Bali, termasuk pura air, sawah terasering, dan seluruh sistem irigasinya.

Penetapan ini tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga pengingat akan pentingnya melestarikan sistem ini.

Di tengah tantangan modernisasi dan alih fungsi lahan, Subak menjadi simbol ketahanan budaya dan ekologi yang luar biasa.

Subak bukan hanya warisan masa lalu, melainkan solusi masa depan untuk pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *