Potret Pura Kancing Gumi di Desa Adat Batu Lantang (Sumber foto: budayabali.com)
Balidalamberita.com, BADUNG – Pura Kancing Gumi adalah salah satu candi Bali yang mempunyai sejarah yang berhubungan dengan mitologi dan kepercayaan dari warga lokal setempat.
Pura Kancing Gumi merupakan pusat spiritual yang menjadi penjaga keseimbangan yang ada di Pulau dewata Bali.
Berdasarkan Lontar Dewa Purana Giri Wana, candi tersebut adalah stana Hyang Gunung Alas atau Lingga Pasupati yang dipercaya menjadi perwujudan Sang Hyang Siwa.
Lokasi dari Pura Kancing Gumi adalah di Desa Adat Batu Lantang, Sulangai, Petang, Badung. Berikut ini beberapa keunikan dari Pura Kancing Gumi.
- Makna Arti Kancing Gumi
Nama “Kancing Gumi” sendiri merupakan “Kunci Bumi”. Pura tersebut dianggap sebagai pelindung alam semesta dan menjadi penjaga stabilitas dunia.
Warga setempat percaya jika dengan keberadaan lingga yang ada di pura ini, maka menjadi keseimbangan dan stabilitas Pulau Bali dan dunia yang bisa terjaga dengan baik.
- Keistimewaan Lingga Pasupati
Lingga Pasupati yang berada di Pura Kancing Gumi adalah simbol suci untuk kepercayaan Hindu Bali.
Lingga tersebut dianggap merupakan manifestasi Sang Hyang Siwa pada wujud Pasupati yang disimbolkan dengan kekuatan pemelihara atau pelindung alam semesta.
Menurut fisiknya, Lingga Pasupati yang berada di Pura Kancing Gumi berbentuk yang menarik dan mencerminkan perwujudan Tri Murti meliputi Brahma , Wisnu, dan Siwa.
Hal tersebut menjelaskan peran lingga yang menjadi simbol keseimbangan atau kesatuan tiga aspek utama pada ajaran Hindu.
Munculnya Lingga Pasupati yang berada di Pura ini semakin memperkuat kepercayaan jika pemujaan kepada Lingga Pasupati bisa menawarkan perlindungan hingga kestabilan untuk alam semesta dan kehidupan antara manusia.
Pada praktik keagamaan, Lingga Pasupati biasanya dipergunakan dalam media pemujaan agar nantinya bisa memohon keselamatan, kesuburan , hingga kesejahteraan.
Ritual yang berlangsung di sekitar lingga tersebut menggambarkan suatu penghormatan yang mendalam terhadap Sang Hyang Siwa Pasupati yang merupakan sumber kehidupan atau pelindung alam semesta.
Dengan demikian, Lingga Pasupati yang berada di Pura Kancing Gumi bukan hanya memiliki fungsi yang menjadi simbol keagamaan, namun juga menjadi pusat spiritual yang sangat penting untuk keseimbangan atau keharmonisan di Pulau dewata.
- Tempat Pemujaan
Pura ini mempunyai beberapa tempat pemujaan yang mempunyai fungsi dan makna khusus untuk kepercayaan Hindu Bali.
- Catu Meres
Salah satu lokasi pemujaan tersebut, misalnya seperti Catu Meres yang menjadi bangunan suci di pura ini.
Secara umum, linggih yang memiliki “Catu” sering dihubungkan dengan lokasi pemujaan dewa-dewa ataupun pada simbol unsur alam.
- Catu Mujung
Sementara Catu Mujung berfungsi serupa sebagai tempat pemujaan Catu Meres.
- Meru Tumpang-2 Gedong Sari
Meru Tumpang-2 Gedong Sari adalah pura yang mempunyai bentuk meru dengan 2 atap yang dipakai menjadi lokasi pemujaan.
Meru yang memiliki 2 atap tersebut biasanya dipakai dalam memuja dewa-dewa tertentu pada hierarki kepercayaan Hindu Bali.
- Padmasana
Terakhir, Padmasana adalah suatu pura yang dilambangkan sebagai tempat tinggal dari Tuhan Yang Maha Esa bagi umat Hindu atau Sang Hyang Widhi Wasa.
Pelinggih ini dipakai dalam tempat pemujaan tertinggi, lokasi orang-orang memohon keselamatan, kesejahteraan, serta kepercayaan dari semesta.
- Pelinggih Peling Agung
Selain tempat suci Catu Meres, Catu Mujung, Meru Tumpang-2 Gedong Sari, Padmasana , serta Lingga Pasupati, maka di Pura Kancing Gumi ada tempat suci penting lain yang bernama Pelinggih Peling Agung yang menjadi salah satu pura utama.
Fungsi dari Pelinggih Peling Agung adalah sebagai tempat pemujaan untuk manifestasi tertinggi Sang Hyang Widhi Wasa pada aspek penguasa alam semesta.
Pura tersebut dipakai dalam meminta suatu anugerah perlindungan dan keharmonisan untuk umat manusia serta alam semesta.
Secara khusus, Pelinggih Peling Agung dilambangkan sebagai hubungan spiritual yang sangat dalam diantara sesama manusia bersama Tuhan yang menjadi penguasa dalam segala aspek kehidupan.
Pada konteks spiritual, Pelinggih Peling Agung merupakan tempat umat Hindu dipusatkan sebagai tempat persembahyangan dan upacara dalam menjaga keseimbangan dunia, baik berdasarkan fisik hingga spiritual.
Peran dari Pura Kancing Gumi yang menjadi pusat penjagaan keseimbangan bumi serta kehidupan, disesuaikan dengan makna dari namanya, “Kancing Gumi” yang artinya “Pengunci Bumi”.
Di sebelah kiri dari Pelinggih Peling Agung Pura Kancing Gumi ada Pemaruman yang menjadi salah satu unsur terpenting pada struktur pura.
Fungsi dari Pemaruman adalah menjadi tempat meletakkan sesajen atau tempat ngias yang fungsinya dalam menyucikan atau memanjatkan doa terhadap Tuhan.
Pemetaan dan penyiapan sesaji yang ada di tempat tersebut biasanya melibatkan air dan bahan-bahan suci.
Secara fungsional, Pura Kancing Gumi adalah tempat bagi masyarakat dalam memohon keselamatan, kesuburan pertanian, dan kesejahteraan.
Pemujaan Pura Kancing Gumi melalui media lingga tersebut dilakukan demi mengharapkan supaya Hyang Siwa senantiasa dilindungi dan diberikan suatu kesejahteraan.
Oleh sebab itu, Pura Kancing Gumi dikatakan sebagai “Loker Bumi” karena peran pentingnya untuk menjaga keseimbangan serta kestabilan alam berdasarkan kepercayaan umat Hindu di Bali.
