Prosesi Nyengker Setra di Setra Gunung Sari Mengwitani (Sumber foto: budayabali.com)
Balidalamberita.com, BADUNG – Nyengker Setra adalah ritual yang kaya akan makna dan sangat berhubungan dengan kelancaran pelaksanaan, kedamaian, dan kesucian upacara Karya Agung Ngenteg Linggih, Ngusabha Desa, dan Mapahayu Nini yang berlangsung di Pura Desa Puseh, Desa Adat Mengwitani.
Istilah “Nyengker Setra” pada bahasa Bali asalnya dari kata “sengker” dan “setra.” Menurut harfiah, “sengker” artinya “pembuatan batas,” dan “setra” artinya “kuburan” ataupun “tanah pemakaman.”
Jadi, “Nyengker Setra” berdasarkan harfiah adalah “pembuatan batas yang berlangsung di sekitar kuburan” atau “mengelilingi kuburan dengan batas.”
Pada konteks ritual “Nyengker Setra”, membuat batas tidak memerlukan pagar fisik atau bangunan nyata yang ditambahkan di sekitar wilayah pemakaman.
Sebaliknya, proses tersebut diselenggarakan dengan kekuatan mantra (puja) dan ritual spiritual dengan menggunakan doa-doa khusus dan upacara keagamaan.
Ritual tersebut memiliki tujuan dalam membangun batas metafisik dan spiritual yang berada di sekitar pemakaman dan diyakini bisa melindungi serta melestarikan tempat ini dari gangguan dan memastikan adanya keharmonisan energi yang berlangsung di sekitar tempat upacara .
Tujuan utama dari ritual Nyengker Setra yaitu dalam menjaga keseimbangan dan keselamatan ketika prosesi upacara.
- Ritual ini memiliki tujuan dalam memastikan jika sarwa prani, terutama SIKMA atau ISIN SEMA adalah entitas non-fisik yang menetap di kuburan, tidak meninggalkan wilayah ini dan mengganggu orang-orang baik yang ada di dalam atau di luar pura.
Dengan menjaga mereka di dalam kuburan selama ritual sakral berlangsung, diharapkan tidak akan muncul gangguan ketika manusia melakukan aktivitas.
- Ritual tersebut juga meminta Dewa Yama Raja serta Bhatara di Praja Pati mencegah kematian yang mungkin terjadi di antara masyarakat selama berlangsungnya seluruh upacara .
Hal tersebut biasanya diwujudkan pada masyarakat dengan larangan upacara Pitra Yadnya selama ritual besar.
Ritual Nyengker Setra dalam upacara besar yang berlangsung di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Mengwitani dilaksanakan di 4 tempat pemakaman yang berbeda, meliputi:
- Setra Gunung Sari,
- Setra Lebah,
- Setra Nyuh Gading,
- Setra Pupuan.
Masing-masing tempat pemakaman ini adalah lokasi khusus yang secara tradisional dipakai dalam tradisi kremasi.
Di antara tempat-tempat tersebut, upacara utama yang melibatkan ritual penting diadakan di Setra Pupuan.
Upacara Nyengker Setra dilakukan ketika upacara besar yang biasanya ditandai dengan ritual Padudusan Agung dan kehadiran upasaksi Sanggar Tawang Meruang (Rong) 3 dengan persembahan “Catur Muka”, yang menjadi bagian dari upacara Karya Agung Ngenteg Linggih, Ngusabha Desa, dan Mapahayu Nini yang berlangsung di Pura Desa dan Puseh, Desa Adat Mengwitani.
