
Balidalamberita.com, DENPASAR – Di tengah hiruk pikuk kawasan wisata Sanur, sebuah pilar batu kuno berdiri tegak sebagai saksi bisu sejarah Pulau Dewata.
Prasasti Blanjong, yang ditemukan di kompleks Pura Blanjong, Desa Sanur Kauh, kembali menjadi sorotan sebagai dokumen tertulis tertua yang secara eksplisit menyebutkan nama Bali (dengan sebutan Walidwīpa).
Bukan sekadar batu bertulis, prasasti berangka tahun 914 Masehi (835 Çaka) ini merupakan kunci pembuka gerbang sejarah Bali Kuno, memperkenalkan sosok raja pendiri dinasti yang memiliki kekuasaan besar.
Prasasti Blanjong diidentifikasi sebagai tugu kemenangan (jayastambha) yang didirikan oleh Śrī Keśarī Warmmadewa, seorang raja yang diyakini sebagai cikal bakal dari Wangsa Warmadewa, dinasti yang berpengaruh besar di Bali selama berabad-abad.
Isi prasasti tersebut mengabadikan pencapaian heroik sang raja, terutama keberhasilannya dalam menaklukkan wilayah-wilayah yang disebut Gurun dan Swal.
“Penemuan ini adalah fondasi sejarah kita,” ujar Dr. I Wayan Suta, seorang arkeolog lokal.
“Disebutkannya kata Walidwīpa dalam prasasti ini membuktikan bahwa nama Bali telah ada sejak abad ke-10, jauh sebelum masuknya pengaruh Majapahit secara besar-besaran.”
Keunikan luar biasa dari Prasasti Blanjong terletak pada sistem penulisannya. Pilar batu ini memuat teks dalam dua aksara dan dua bahasa yang berbeda, menjadikannya bukti kuat adanya kontak budaya adat yang luas:
- Aksara Nāgarī (India Utara) dan Bahasa Bali Kuno.
- Aksara Kawi (Jawa Kuno) dan Bahasa Sansekerta.
Penggunaan aksara dan bahasa dari luar, terutama Nāgarī yang berasal dari anak benua India, mengindikasikan bahwa Raja Śrī Keśarī Warmmadewa adalah pemimpin yang berpandangan luas, menjalin hubungan diplomatik dan kebudayaan hingga ke luar Nusantara.
Meskipun usianya telah mencapai 1.111 tahun, Prasasti Blanjong hingga kini tetap berada di lokasi penemuannya (in situ) di Pura Blanjong.
Pemerintah dan masyarakat adat setempat terus menjaga dan merawat pilar batu tersebut, menjadikannya objek wisata sejarah sekaligus situs suci.
Prasasti ini bukan hanya sekadar catatan masa lalu; ia adalah penanda identitas dan titik awal kerajaan-kerajaan Bali yang kemudian membentuk kebudayaan dan tradisi yang kita kenal hingga saat ini.
Keberadaannya di tengah Sanur menjadi pengingat bahwa di balik pantai yang indah, tersembunyi sejarah panjang dan megah.
