
Balidalamberita.com, KLUNGKUNG – Terletak di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Desa Adat Negari merupakan salah satu desa adat di Bali yang memancarkan keindahan alam sekaligus kekayaan tradisi leluhur.
Suasana pedesaan yang tenang berpadu dengan hamparan sawah menghijau serta pesisir pantai yang menawan, menjadikan desa ini destinasi budaya sekaligus wisata yang menyejukkan jiwa.
Namun, daya tarik Negari tidak hanya terletak pada keindahan alamnya. Lebih dari itu, masyarakatnya dikenal memiliki semangat kuat dalam menjaga serta meneruskan nilai-nilai adat dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Asal Usul Nama dan Sejarah Desa
Nama “Negari” sendiri dipercaya memiliki kesamaan makna dengan “Negarin”, yang berarti “utusan dari Singapadu atau Gianyar” para utusan ini dahulu memiliki tugas penting, yaitu menjaga dan membentengi wilayah Kabupaten Gianyar.
Menurut catatan dalam Babad Bendesa, keberadaan Desa Adat Negari sudah ada sejak tahun Saka 1541 atau 1619 Masehi. Sekitar dua abad silam, disebutkan bahwa terdapat 60 keluarga yang memohon izin kepada Raja Klungkung untuk membuka pemukiman baru. Permintaan tersebut dikabulkan, dan kemudian berdirilah perkampungan di kawasan hutan di sebelah selatan Tegal Besar atau di timur Sarimertha. Dari situlah pusat kehidupan Desa Negari bermula.
Kondisi Geografis Desa
Secara geografis, Desa Adat Negari membentang di atas wilayah seluas 216 hektar. Wilayah ini terbagi menjadi dua banjar adat utama, yaitu Banjar Adat Tegal Besar dan Banjar Adat Negari. Selain itu, terdapat pula tiga banjar administratif, yakni Banjar Dinas Tegal Besar, Banjar Dinas Negari, dan Banjar Dinas Sarimertha.
Kombinasi antara lahan pertanian yang subur dan kedekatan dengan pesisir menjadikan desa ini memiliki karakter alam yang lengkap dari hijaunya sawah hingga birunya laut.
Melestarikan Tradisi Leluhur
Sebagai desa adat yang masih memegang teguh nilai-nilai spiritual, Negari memiliki tiga pura utama yang terletak dalam satu kompleks suci: Pura Bale Agung, Pura Puseh, dan Pura Segara. Ketiga pura ini memiliki fungsi spiritual yang berbeda namun saling melengkapi, menjadi pusat pelaksanaan upacara keagamaan dan kegiatan adat masyarakat setempat.
Ritual, tradisi, dan upacara keagamaan terus dijaga dengan penuh hormat, menjadi bukti bahwa masyarakat Desa Adat Negari tak hanya mewarisi budaya, tetapi juga merawatnya agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Dengan jarak hanya sekitar 7 kilometer dari Kota Semarapura, Desa Adat Negari menjadi salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan harmoni antara alam, budaya, dan kehidupan masyarakat Bali yang autentik.
