Oktober 15, 2026
Tari Baris Jangkang

Tari Baris Jangkang (sumber foto: X @antonius)

Balidalamberita.com, KELUNGKUNG – Tari Baris Jangkang merupakan salah satu tarian sakral khas Bali yang berasal dari Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Tarian ini dipentaskan dalam rangkaian upacara adat dan keagamaan, baik yang digelar di pura maupun di lingkungan rumah tangga.

Tari Baris Jangkang sering kali mengiringi upacara manusa yadnya (daur hidup), terutama saat naur sesangi atau pembayaran kaul. Selain itu, tarian ini juga rutin dipentaskan saat berlangsungnya upacara di Pura Desa setempat.

Sebagai tarian sakral, pementasannya diatur oleh sejumlah ketentuan yang harus ditaati. Misalnya, selama pementasan berlangsung, penonton dilarang ribut atau mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Pelanggaran terhadap aturan ini diyakini dapat mengakibatkan gangguan seperti sakit atau kecelakaan.

Selain itu, segala bentuk pementasan dan penyebaran informasi tentang tarian ini harus mendapat persetujuan dari ahli waris atau keturunan langsung pencipta tari, yaitu I Jero Kulit. Jika dilanggar, masyarakat percaya hal tersebut bisa mendatangkan akibat buruk.

Umumnya, Tari Baris Jangkang ditarikan oleh sembilan penari pria. Meski demikian, jumlah penari bisa bertambah atau dikurangi, asalkan tetap ganjil. Para penari dan penabuh biasanya berasal dari Dusun Pelilit, yang merupakan keturunan dari penari dan penabuh terdahulu.

Penari mengenakan busana khas yang terdiri dari:

  • Awir (selempang dada)
  • Jaler (celana panjang)
  • Kamben (kain)
  • Saput (penutup tubuh)
  • Tombak
  • Udeng (ikat kepala)

Lakon atau cerita yang dibawakan dalam tarian ini umumnya bersumber dari dongeng atau cerita rakyat setempat, dan disesuaikan dengan konteks upacara yang mengiringinya. Sebelum tarian dimulai, biasanya dilakukan rangkaian upacara khusus yang dipimpin oleh seorang pemangku sebagai bentuk penyucian dan penghormatan terhadap unsur sakral dalam tarian tersebut.

Tari Baris Jangkang tidak hanya memperkuat identitas budaya Desa Pejukutan, tetapi juga menjadi wujud nyata pelestarian nilai-nilai adat dan spiritualitas masyarakat Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *