Oktober 16, 2026
nxnnnnnnnnnn

Penguatan Adat, Budaya, Tradisi dan Kearifan Lokal yang dilaksanakan oleh Majelis Desa Adat (MDA) Bali, menarik perhatian Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Selatan untuk berkunjung sekaligus belajar tentang pola dan strategi yang dilakukan di Bali.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Rombongan Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Selatan, Yohanis Okdinon dalam sambutannya mengawali kegiatan sesi diskusi di Hotel Liberta Seminyak Kuta pada Senin (4/11).

Menurut Yohanis, keberadaan MRP yang dibentuk melalui Undang Undang Otonomi Khusus Papua, diharapkan mampu menjadi agregrator dalam mengkolaborasikan seluruh stakeholder yang berperan dalam hal pelestarian Seni, Budaya, Adat, Tradisi dan Kearifan Lokal. Namun, menurut Yohanis yang merupakan Ketua Pokja Agama MRP Papua Selatan ini, peran tersebut dirasa belum maksimal sehingga perlu untuk belajar dari Majelis Desa Adat (MDA).

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Dewa Nyoman Rai Asmara Putra, SH.,MH., selaku Panyarikan Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Prof. Dr., AA. Istri Ari Atu Dewi,SH.,MH., Dr. Drs., Made Wena, M.Si., Patajuh Bandesa Agung Baga Urusan Krama, Wewidangan, dan Kasukertan dan I Made Abdi Negara, Patajuh Bandesa Agung Baga Kerjasama, Informasi, Inovasi dan Pengelolaan Data.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (PMA) Provinsi Bali, I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra mewakili PJ Gubernur Bali.

Panyarikan Agung saat membawakan materi tentang Kedudukan, peran dan fungsi Majelis Desa Adat Bali banyak menjabarkan tentang keberadaan Majelis Desa Adat Bali yang berperan menjadi mitra pemerintah dalam melakukan upaya pelestarian seni, budaya, adat, tradisi dan kearifan lokal. Tantang yang dihadapi oleh masyarakat adat di Bali, yang terhimpit diantara globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi informasi yang jika dibiarkan, dikhawatirkan akan menggerus nilai-nilai penghargaan terhadap adat, budaya, tradisi dan kearifan lokal itu sendiri.

Bandesa Agung MDA Bali didampingi Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali menyerahkan Cendera Mata kepada Ketua Rombongan MRP Papua Selatan, Yang Mulia Yohanis Okdinon

Prof Ari Atu Dewi, yang dikenal dengan pikiran- pikiran cerdas dan segar tentang Masyarakat Adat terutama yang berkenaan dengan Hukum Adat Bali, menguraikan tentang Peran Perempuan dalam Pelestarian Adat, Budaya, Tradisi dan Kearifan Lokal serta bagaimana Perempuan memainkan peran dalam perekonomian Desa Adat.

Pemateri selanjutnya, Dr I Made Wena, mengulas tentang pengelolaan Sumber Daya di Desa Adat dan Peran MDA dalam pelestarian Budaya, Adat, Tradisi dan Kearifan Lokal yang disampaikan secara jelas dan lugas.

Pemateri terakhir adalah pemaparan tentang Tata Kelola Desa Adat, Struktur Kepemerintahan dan Kedudukan dengan Desa Dinas serta Pemerintah Daerah yang dibawakan oleh I Made Abdi Negara, Patajuh Bandesa Agung Baga Kerjasama, informasi, Inovasi dan Pengelolaan Data.

Materi yang dibawakan oleh para narasumber, memantik berbagai komentar dan pertanyaan yang cukup mendalam. Pertanyaan muncul antara lain dari Yang Mulia Agus Bulukey, Yang Mulia Yohana Gebze, Yang Mulia Abdul Awal Gebze, Yang Mulia Frederika Debat, Yang Mulia Marthina Kurufe, Yang Mulia Ferdinand Frederyck Deki Salima dan Yang Mulia Tarsisius Mely Jujo.

Kegiatan di hari kedua adalah ramah tamah dan diskusi bersama Bandesa Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali bertempat di Puri Denbencingah Akah Klungkung yang dihadiri juga oleh Patengen Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Patajuh Bandesa Agung, dan Prajuru Majelis Desa Adat Provinsi Bali lainnya.

Dalam kegiatan yang dipandu oleh Patajuh Bandesa Agung Baga Kerjasama, Informasi, Inovasi dan Pengelolaan Data tersebut, Prajuru Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali dan Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Selatan, banyak melakukan diskusi terbuka tentang konsep dan strategi pelestarian Seni, Budaya, Adat, Tradisi dan Kearifan Lokal sebagai upaya penguatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kegiatan dihari kedua ditutup dengan kunjungan ke Desa Adat Pangelipuran yang diterima langsung oleh Bandesa Adat bersama Prajuru Desa Adat. Kegiatan di Desa Adat Pangelipuran juga sekaligus menjelaskan tentang pola dan strategi Desa Adat selama ini dalam mengembangkan Desa Adat Pangelipuran menjadi Desa Wisata bertaraf Internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *