Ilustrasi Tradisi ngejot di Bali dengan membagikan daging kurban kepada warga non muslin (kabardamai.id dan kintamani.id)
Balidalamberita.com, DENPASAR – Tradisi ngejot atau yang dikenal dengan berbagi makanan kepada tetangga atau orang lain dianggap simbol atau tradisi kerukunan antar umat beragama yang ada di Bali, khususnya ketika perayaan Idul adha.
Sebagai wujud toleransi dan persaudaraan antar umat beragama maka umat Muslim akan membagikan daging kurban kepada umat Hindu.
Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Wilayah Bali melaksanakan perayaan Idul Adha dan berlangsung dengan baik.
Proses penyembelihan hewan kurban baik sapi maupun kambing berlangsung dengan tertib, kemudian dagingnya diberikan kepada tetangga atau warga sekitar yang membutuhkan, misalnya warga non-Muslim.
Pada perayaan di Bali yang berbeda adalah adanya tradisi lokal bernama tradisi ngejot pada proses pembagian daging kurban yang dipotong secara langsung.
Daging kurban yang sudah dibersihkan kemudian dikemas secara rapi pada besek (wadah anyaman bambu yang khas dari Bali) sebelum diberikan kepada panitia di rumah-rumah warga non-Muslim.
Selain pembagian langsung di rumah-rumah warga, LDII Bali juga memberikan undangan di Gedung Serba Guna LDII kepada warga non-Muslim agar menerima daging kurban. Kegiatan tersebut tentunya disambut baik oleh masyarakat yang berbeda agama.
Ketua LDII Wilayah Bali, Olih Solihati Karso, mengungkapkan jika berbagi terhadap tetangga merupakan prinsip dasar pada kegiatan yang berlangsung, tanpa memandang suatu latar belakang agama.
“Ngejot artinya kita berbagi kepada umat yang ada di sekitar kita. Dalam setiap kegiatan, pasti ada yang diberikan kepada warga non-Muslim. Bahkan jika ada seseorang yang meminta, kita wajib membagikannya. Tidak boleh dimakan sendiri,” ucapnya.
Munculnya tradisi ngejot ini pada konteks perayaan keagamaan bukan hanya melestarikan pada budaya lokal, namun memperkuat kerukunan diantara umat beragama yang ada di Indonesia.
Semangat dalam hal berbagi dan saling memberikan penghormatan kepada sesama menjadi tolak ukur untuk menjaga keharmonisan antara umat beragama.
Tradisi tersebut menunjukkan jika perayaan Idul adha tidak hanya berkaitan dengan ibadah kurban saja, namun lebih kepada momen dalam mempererat tali persaudaraan antara sesama manusia beserta lingkungan sosialnya.
