Ilustrasi tradisi Natab Sesayut (sumber foto: denpasarkota.go.id)
Balidalamberita.com, DENPASAR – Dalam budaya Hindu Bali, Sesayut menjadi salah satu bentuk persembahan suci yang dipanjatkan untuk memohon keberkahan dan rahmat dalam upacara tertentu. Di antara berbagai bentuk tradisi Sesayut, terdapat satu tradisi unik yang digelar sehari setelah Hari Raya Galungan, yaitu Natab Sesayut Umanis Galungan.
Tradisi ini secara khusus ditujukan bagi anak-anak yang belum pernah mengalami tanggal gigi atau dalam istilah Bali disebut maketus. Masyarakat meyakini bahwa tradisi ini mampu mengembalikan energi positif sehingga anak-anak bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih semangat dan sehat lahir batin.
Ketika tradisi Natab Sesayut berlangsung, orang tua berperan penting dalam mendampingi anak-anaknya. Ritual ini biasanya dilaksanakan di balai suci rumah masing-masing. Para ibu menjadi sosok utama dalam memimpin upacara, menghadap pada sesajen yang telah disiapkan dengan penuh ketulusan.
Dalam prosesi tersebut, para ibu memercikkan air suci ke telapak tangan anak-anak mereka, sebagai simbol penyucian diri dan perlindungan dari energi negatif. Selain itu, anak-anak juga dikenakan gelang benang putih yang diikat di pergelangan tangan kanan sebagai lambang kemurnian dan penjagaan spiritual.
Setelah upacara selesai, suasana menjadi semakin hangat dengan momen silaturahmi antar keluarga dan tetangga. Banyak keluarga memanfaatkan hari ini untuk saling mengunjungi, mempererat hubungan kekeluargaan, bahkan berlibur ke tempat wisata bersama orang-orang terdekat.
Tradisi Natab Sesayut Umanis Galungan tidak hanya menunjukkan kearifan lokal masyarakat Bali, tetapi juga menjadi bentuk warisan spiritual yang mempererat ikatan antara orang tua dan anak. Di balik kesederhanaannya, tersimpan nilai-nilai luhur yang terus dilestarikan lintas generasi.
