Oktober 15, 2026
kramaning sembah

Potret Persembahyangan umat Hindu (https://commons.wikimedia.org (Wiaskara)).

Balidalamberita.com, DENPASAR – Umat Hindu di Bali menjalankan sebuah rangkaian persembahyangan yang disebut kramaning sembah, sebagai bagian dari tradisi spiritual mereka. Rangkaian doa ini menyesuaikan dengan ajaran dan tata cara dalam agama Hindu Bali.

Biasanya, umat menjalankan kramaning sembah saat persembahyangan bersama di pura, yang dipimpin oleh seorang sulinggih (pendeta Hindu). Namun, umat juga dapat melakukannya secara pribadi setelah menyelesaikan Puja Tri Sandya.

Setiap kali umat Hindu melakukan sembahyang di pura, mereka mengawali ritualnya dengan Puja Tri Sandya, kemudian melanjutkan ke tahapan kramaning sembah.

Tata Cara Kramaning Sembah

Kramaning sembah terdiri dari beberapa tahapan yang dijalankan dengan khusyuk dan penuh penghormatan:

  1. Sembah puyung sebagai pembuka, yaitu sembah tanpa menggunakan bunga.
  2. Sembah dengan bunga yang ditujukan kepada Sang Hyang Siwa Aditya, manifestasi Tuhan sebagai sumber cahaya.
  3. Sembah kepada Ista Dewata, yaitu bentuk Tuhan yang disesuaikan dengan tujuan persembahyangan.
  4. Permohonan anugerah, tempat umat menyampaikan doa dan harapan.
  5. Sembah puyung kembali sebagai penutup, lalu diakhiri dengan parama santi, doa permohonan kedamaian bagi seluruh alam.

Persiapan Sebelum Kramaning Sembah

Sebelum memulai kramaning sembah, umat perlu melakukan persiapan lahir dan batin.

  • Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang tenang dan sopan, pengaturan napas yang baik, serta posisi tangan yang sesuai. Umat juga harus mengenakan pakaian yang bersih dan rapi, serta menyiapkan bunga dan dupa sebagai sarana sembahyang.
  • Persiapan batin mencakup ketenangan pikiran dan kesucian hati. Umat diharapkan memusatkan pikiran agar persembahyangan berjalan khidmat dan penuh penghayatan.

Dengan menjalankan kramaning sembah, umat Hindu Bali mengekspresikan rasa syukur, permohonan, dan pengabdian kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Rangkaian ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan spiritual dan budaya Bali yang terus lestari hingga kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *