Oktober 15, 2026
Upacara Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani (Sumber foto: Bali Post/Istimewa)

Balidalamberita.com, BANGLI – Upacara Ngusaba Kedasa merupakan salah satu upacara suci umat Hindu di Bali yang digelar sebagai bentuk persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bertepatan dengan Purnama Kedasa atau bulan purnama kesepuluh dalam penanggalan Bali.

Tradisi sakral ini biasanya berlangsung di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani — salah satu pura penting yang menjadi pusat pemujaan kepada Dewi Danu, penguasa air dan sumber kesuburan bagi kehidupan di Bali.

Pelaksanaan Ngusaba Kedasa bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga bentuk nyata dari rasa syukur masyarakat terhadap anugerah kesuburan dan hasil bumi yang melimpah.

Melalui upacara ini, masyarakat memohon agar keseimbangan alam tetap terjaga dan kehidupan dapat terus berkembang dengan harmonis.

Secara mendalam, tujuan dari upacara Ngusaba Kedasa mencakup berbagai aspek kehidupan, antara lain:

  1. Mengungkapkan rasa terima kasih atas panen yang berlimpah dan rezeki yang diberikan oleh alam.
  2. Meneguhkan semangat berbangsa dan bernegara agar masyarakat tetap bersatu dalam naungan pemerintahan yang kokoh.
  3. Mendoakan kedamaian dunia agar semua makhluk hidup dapat hidup berdampingan tanpa konflik.
  4. Memelihara kelestarian unsur-unsur Panca Maha Bhuta, yaitu tanah, air, api, angin, dan ruang — lima elemen dasar pembentuk alam semesta.
  5. Mengembangkan potensi kehidupan dan sumber daya alam demi kesejahteraan bersama.
  6. Menjaga nilai-nilai budaya luhur, seperti gotong royong, kebersamaan, dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada puncaknya, upacara Ngusaba Kedasa terdiri atas tiga tahapan penting, yaitu Upacara Tengahing Dalu, Pepada Agung, dan Puncak Upacara.

Ketiga ritual tersebut merupakan simbol perjalanan spiritual masyarakat dalam menghaturkan bhakti kepada Sang Pencipta serta menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Kesuksesan penyelenggaraan upacara ini tentu tidak lepas dari kerja sama masyarakat adat serta dukungan pemerintah daerah.

Semangat gotong royong dan kebersamaan inilah yang menjadi roh utama dalam pelestarian tradisi Ngusaba Kedasa, sehingga nilai-nilai suci warisan leluhur tetap hidup dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *