Oktober 15, 2026
Makepung Jembrana

Ilustrasi Makepung, lomba pacu kerbau (sumber foto: wikimedia.org)

Balidalamberita.com, JEMBRANA – Bali tak hanya dikenal dengan pantainya yang indah, tetapi juga kekayaan budaya yang unik. Salah satu tradisi khas dari Kabupaten Jembrana adalah Makepung, yaitu lomba pacu kerbau yang menjadi warisan budaya agraris masyarakat setempat.

Tradisi Agraris yang Sarat Makna

Makepung bukan sekadar lomba, tetapi juga menjadi simbol keseimbangan antara manusia dan alam. Tradisi ini lahir sebagai pelengkap sistem subak, organisasi pengelolaan air irigasi khas Bali, dan menjadi puncak kegembiraan warga sebelum memasuki musim tanam berikutnya.

Awalnya, lomba ini hanya diikuti oleh warga antar desa atau tetangga, namun kini telah berkembang menjadi kompetisi besar yang melibatkan dua komunitas utama atau blok yang dikenal sebagai komunitas Pakepungan.

Properti dan Busana Tradisional

Para joki tampil mencolok dengan mengenakan kain tapis, tekes batik sebagai penutup kepala, celana panjang gelap sebatas lutut, serta Sempak Kolong, kain khas Jembrana yang diselipkan di pinggang. Mereka juga bertelanjang dada untuk menambah kesan tradisional.

Sementara itu, kerbau pacu yang disebut kerbau pepadu dihias cantik dengan rumbing atau mahkota di kepala dan slongsong tanduk berwarna-warni. Pedati atau cikar yang ditarik kerbau diberi ukiran serta cat mencolok, menambah semarak acara. Bahkan, orang Belanda dahulu menyebut cikar tersebut sebagai Benhur Jembrana.

Aturan Lomba Makepung

Makepung digelar di lintasan tanah berpasir sepanjang 1 kilometer dan lebar 4 meter, membentuk huruf U. Garis start dan finish berada di lokasi yang sama.

Tiga petugas berjaga di garis tersebut, dua sebagai juri garis dan satu pengibar bendera penanda hasil lomba. Perlombaan dimulai dengan dua pasangan kerbau pepadu yang berjarak sekitar 5 meter. Saat aba-aba diberikan oleh juri (satu, dua, tiga), para kerbau pun berlari menyusuri lintasan hingga garis ujung.

Setelah 100 pasangan dilepaskan, pasangan yang pertama berlari akan kembali bertanding menuju garis finish. Pemenangnya ditentukan berdasarkan siapa yang lebih dahulu mencapai garis finish. Menariknya, karena sistem start di belakang, pasangan kerbau yang berada di urutan kedua pun bisa keluar sebagai juara jika mampu menyusul lawannya.

Makepung bukan hanya kompetisi kecepatan, melainkan juga pertunjukan budaya, kekompakan, dan semangat kebersamaan masyarakat agraris Bali. Tradisi ini menjadi salah satu ikon budaya Jembrana yang layak untuk terus dilestarikan dan dikenalkan kepada dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *