Keterangan Foto : Kepala Kantor OJK KR 8 Bali Nusra, Kristrianti Puji Rahayu
Balidalamberita.com, DENPASAR–OJK Bali mencatat total kredit yang disalurkan di Bali, NTB dan NTT pada Agustus 2025 mencapai Rp241,52 triliun. Angka tersebut tumbuh tumbuh 6,89 persen, sedikit melandai periode sama tahun 2024, sebesar 8,30 persen.
Berdasarkan jenis penggunaannya, sebesar 57,84 persen kredit di wilayah Bali dan Nusa Tenggara disalurkan kepada kredit produktif, yaitu 32,65 persen dalam bentuk modal kerja dan 25,19 persen dalam bentuk investasi.
Pertumbuhan kredit yoy didorong oleh peningkatan nominal kredit investasi yang bertambah sebesar Rp13,01 triliun atau tumbuh 27,22 persen. Kucuran kredit paling banyak disalurkan ke sektor bukan lapangan usaha 42,16 persen serta sektor perdagangan besar dan eceran 23,53 persen.
“Tingginya pertumbuhan kredit investasi ini menggambarkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap prospek kondisi ekonomi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara,” ujar Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu, dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 13 Oktober 2025.
Jika melihat sektor penerima kreditnya, di Bali paling besar kepada sektor bukan lapangan usaha, sedangkan di NTB kepada pertambangan dan penggalian Rp4,63 triliun dan di NTT kepada sektor bukan lapangan usaha Rp1,73 triliun.
Berdasarkan kategori debitur, sebesar 41,61 persen kredit di wilayah Bali dan Nusa Tenggara disalurkan kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan pertumbuhan sebesar 1,10 persen yoy, sedikit melandai dibandingkan Juli 2025 yang tumbuh sebesar 1,18 persen yoy. Tingginya porsi penyaluran kredit perbankan kepada UMKM menunjukkan keberpihakan bank untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Seiring dengan pertumbuhan penyaluran kredit, penghimpunan DPK juga mengalami pertumbuhan positif. Penghimpunan DPK posisi Agustus 2025 mencapai Rp297,25 triliun atau tumbuh 7,88 persen yoy, melandai dibandingkan posisi Agustus 2024 yang sebesar 13,84 persen yoy (Juli 2025: 8,62 persen yoy). Berdasarkan jenisnya, peningkatan DPK dibandingkan Agustus 2024 ditopang oleh kenaikan nominal tabungan sebesar Rp11,58 triliun dan deposito sebesar Rp8,97 triliun.
Fungsi intermediasi yang tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) posisi Agustus 2025 sebesar 81,25 persen, sedikit melandai dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 82,01 persen (Juli 2025: 81,66 persen).
Kredit bermasalah perbankan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara tetap terjaga di bawah threshold (5 persen) dengan Non Performing Loan (NPL) gross sebesar 3,12 persen melandai dibandingkan posisi Juli 2025 yang sebesar 3,15 persen (Agustus 2024: 2,95 persen).
Ketahanan likuiditas dan permodalan perbankan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara juga tetap kuat tercermin dari Cash Ratio (CR) dan Capital Adequacy Ratio (CAR). Rasio CR BPR di Bali sebesar 14,83 persen, Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar 20,41 persen, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 7,49 persen. Sementara itu, CAR BPR di Bali sebesar 31,68 persen, NTB sebesar 46,38 persen, dan NTT sebesar 43,03 persen. Tingginya permodalan perbankan diyakini mampu menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi ketidakpastian global. OJK akan terus mendorong kinerja intermediasi perbankan dengan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan terjaganya likuiditas.
Perkembangan Sektor Pasar Modal
Jumlah investor Pasar Modal di wilayah Bali dan Nusa Tenggara menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu mencapai double digit secara yoy. Pada Agustus 2025, jumlah investor saham di wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebanyak 282.367 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 29,81 persen yoy. Demikian juga dengan jumlah investor Reksa Dana dan SBN yang keduanya tumbuh berturut-turut sebesar 23,82 persen yoy dan 17,68 persen yoy.
Nilai kepemilikan saham di wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencapai Rp9,16 triliun atau tumbuh 2,52 persen yoy. Sementara itu, nilai transaksi saham mencapai Rp5,02 triliun atau tumbuh 55,80 persen yoy.
Perkembangan Perusahaan Pembiayaan dan Modal Ventura
Piutang Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara posisi Juli 2025 masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, walaupun dengan laju yang melandai dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pembiayaan dari Perusahaan Pembiayaan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencapai Rp19,30 triliun, atau tumbuh 7,23 persen yoy, meningkat dibandingkan posisi Juni 2025 yang tumbuh sebesar 4,70 persen yoy (Juli 2024: 10,83 persen yoy).
Sementara itu, penyaluran pembiayaan melalui Modal Ventura posisi Juli 2025 sebesar Rp330,01 atau tumbuh 2,98 persen yoy, membaik jika dibandingkan Juni 2025 yang tumbuh sebesar 1,37 persen yoy (Juli 2024: 10,73 persen yoy).
Di sisi lain, tingkat pembiayaan bermasalah Perusahaan Pembiayaan relatif rendah dengan Non Performing Financing (NPF) posisi Juli 2025 sebesar 1,73 persen, sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1,40 persen. Sementara itu, NPF dari pembiayaan Modal Ventura posisi Juli 2025 sebesar 7,35 persen, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 8,20 persen.
