Oktober 15, 2026
Ilustrasi masyarakat yang sedang melakukan Tradisi Okokan (Sumber foto: desawisatagunungsalak.com)

Balidalamberita.com, TABANAN – Tradisi Okokan merupakan salah satu kesenian yang menjadi ciri khas dan ikon dari Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.

Tradisi tersebut kerap dijalankan oleh warga Tabanan, terutama Banjar Delod Puri, Desa Kediri, Tabanan.

Tradisi ini tetap dipertahankan dan dilestarikan hingga saat ini sehingga keberadaannya merupakan kekayaan budaya adat Bali dan sebagai bentuk warisan bersejarah yang tetap dijaga dengan baik.

Makna dari Okokan

Okokan adalah kalung dari kayu yang selanjutnya digantungkan di bagian leher sapi yang menjadi simbol kebanggaan.

Tradisi Okokan bukan hanya sekadar pementasan kesenian saja, namun hanya sebuah persembahan budaya yang berharga untuk warga Desa Kediri.

Dengan menjaga serta mempersembahkan tradisi tersebut, Desa ini terus mengabadikan warisan sejarah yang ada dan melestarikan kekayaan budaya adat Bali dalam generasi yang akan datang.

Asal Usul dari Okokan

Meskipun sejarah tradisi Okokan tidak tercatat secara resmi pada prasasti ataupun lontar, namun masyarakat setempat percaya jika tradisi tersebut sudah ada sejak tahun 1960.

Pada waktu itu, Desa Kediri mengalami serangan penyakit misterius atau yang dikenal dengan nama kabrebehan, menyerang masyarakat oleh segala usia serta mengakibatkan kematian mendadak.

Keunikan Okokan

Berikut ini ada beberapa keunikan dari Okokan, antara lain:

  1. Hiasan tapel dan lukisan wajah Boma merupakan ciri khas Okokan Desa Kediri.
  2. Wajah Boma mempunyai makna angkara murka dan kemarahan, sehingga menjalankan tradisi Okokan dipercaya dapat menetralisir sifat-sifat negatif yang ada di Desa Kediri.
  3. Saat Okokan digoyangkan maka akan mengeluarkan suara yang keras dan bergemuruh sehingga biasanya dimainkan secara beramai-ramai.
  4. Ukuran dari Okokan bervariasi, mulai dari ukuran kecil sampai super jumbo yang memiliki ukuran hingga mencapai 90 cm dan lebih besar lagi.
  5. Setiap penyelenggaraan tradisi ini akan melibatkan 40 sampai 50 orang yang menggunakan pakaian khusus yang sudah ada sejak lama.

Acara Okokan dipimpin oleh seorang penabuh yang bermain kleneng. Ritme kleneng kemudian diikuti oleh gerakan Okokan yang juga dilengkapi dengan musik gamelan Baleganjur, tercipta suasana magis dan memukau untuk penonton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *