
Balidalamberita.com, BANGLI – Desa Wisata Penglipuran di Bali merupakan desa terbersih ketiga di dunia yang dinobatkan oleh UNESCO, lokasi tempat ini berada di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.
Selain itu, desa ini juga sempat mendapatkan sejumlah penghargaan lainnya meliputi Kalpataru, Indonesia Sustainable Tourism Award, dan hingga mendapatkan Top 100 Sustainable Destination.
Secara etimologis, nama Desa tersebut memiliki arti pengeling atau eling atau mengingat. Sedangkan kata pura memiliki makna benteng, tanah leluhur, dan tempat.
Sehingga, Kata penglipuran dapat diartikan sebagai pengingat kepada tanah leluhur atau tempat asal muasalnya.
Warga masyarakat juga mengatakan jika kata penglipuran berarti pelipur atau lara, sehingga dalam bahasa Indonesia, adalah menghibur saat mengalami duka.
Saat berkunjung ke desa ini, pengunjung disambut parit saluran air di kanan kiri yang memiliki lebar 50 cm di sepanjang jalan dengan sanitasi yang sangat lancar.
Sementara itu, desa wisata Penglipuran juga memiliki tata ruang “Tri Mandala” karena terdiri dari 3 tempat, meliputi: Utama Mandala, Madya Mandala, dan hingga Nista Mandala.
- Utama Mandala merupakan wilayah suci yang diperuntukkan bagi para dewa agar bisa melakukan peribadatan.
- Madya Mandala adalah tempat tinggal penduduk Desa Adat Penglipuran.
- Nista Mandala adalah area pemakaman.
Berdasarkan buku “Desa Swabudaya Penglipuran” oleh Nata Citta Desa Swabudaya, Desa Penglipuran merupakan Desa Adat Bali yang kerap melakukan kegiatan Adat Desa yang kerap diselenggarakan pada 6 bulan hingga 1 tahun sekali.
Meliputi Upacara Ngusaba Paruman upacara khusus bagi penduduk yang dilakukan setiap purnama kapat (hari baik dalam bersedekah) sebagai persembahan untuk Dewa Brahma dan Dewa Wisnu.
Itulah tadi penjelasan tentang konsep Tri Mandala dan keistimewaan yang ada di Desa Wisata Penglipuran karena meraih berbagai penghargaan.
