Oktober 15, 2026
desa Bali Aga tidak merayakan Galungan

Ilustrasi Masyarakat Bali Era 90-an (www.vice.com).

Balidalamberita.com, DENPASAR – Di tengah semaraknya perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan yang menjadi identitas budaya dan spiritual masyarakat Hindu Bali, terdapat sejumlah komunitas adat yang memilih jalur berbeda. Mereka adalah masyarakat Bali Aga penduduk asli Bali yang tetap teguh menjaga warisan leluhur, termasuk dalam hal kepercayaan dan tata upacara keagamaan.

Siapa Itu Masyarakat Bali Aga?

Bali Aga, atau dikenal juga sebagai Bali Mula, merupakan komunitas adat yang tinggal di beberapa desa pegunungan di Bali. Mereka mempertahankan sistem sosial dan keagamaan yang dipercaya lebih tua dari ajaran Hindu Majapahit. Karena itu, sejumlah ritual dan hari suci yang mereka jalankan berbeda dari kalender keagamaan umat Hindu Bali pada umumnya.

Desa-Desa yang Tidak Merayakan Galungan dan Kuningan

Berikut adalah beberapa desa Bali Aga yang tidak merayakan Galungan dan Kuningan:

  1. Desa Tenganan Pegringsingan (Karangasem)
    Masyarakat Desa Tenganan menganut sistem keagamaan khas Bali Aga yang memiliki struktur dan ritus tersendiri. Alih-alih Galungan dan Kuningan, mereka merayakan Usaba Sambah, sebuah perayaan besar yang mencerminkan keunikan spiritual dan budaya desa tersebut.
  2. Desa Trunyan (Kintamani, Bangli)
    Trunyan dikenal dengan tradisi penguburan unik di mana jenazah tidak dikubur maupun dibakar, melainkan diletakkan di atas tanah di bawah pohon Taru Menyan. Desa ini tidak merayakan Galungan dan Kuningan, dan lebih memusatkan perhatian pada ritus adat yang diwariskan secara turun-temurun.
  3. Desa Bayung Gede (Kintamani, Bangli)
    Mirip dengan Trunyan, masyarakat Bayung Gede juga menjunjung tinggi tradisi Bali Aga. Mereka menjalankan sistem kepercayaan dan upacara adat tersendiri yang tidak mencakup Galungan dan Kuningan.
  4. Desa Sembiran (Buleleng)
    Sebagai salah satu desa tertua di Bali, Sembiran memiliki sistem penanggalan dan hari raya sendiri. Masyarakat di sini juga tidak merayakan Galungan dan Kuningan, melainkan menyelenggarakan upacara adat berdasarkan kalender lokal.

Menjaga Tradisi Leluhur


Ketidakhadiran Galungan dan Kuningan dalam kalender ritual masyarakat Bali Aga bukanlah bentuk penolakan terhadap nilai-nilai Hindu, melainkan ekspresi dari keberagaman spiritual yang hidup di Bali. Komunitas Bali Aga memilih untuk merawat warisan leluhur mereka yang unik, sebagai bagian dari identitas budaya yang tak ternilai.

Keberadaan desa-desa ini menunjukkan bahwa Bali bukan hanya kaya akan tradisi, tetapi juga memiliki keragaman spiritual dan adat istiadat yang patut dihargai dan dilestarikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *