Oktober 15, 2026
Sosialisasi Empat Pilar

Kesuma Kelakan memberikan pemaparan tentang nilai-nilai kebangsaan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar yang digelar di Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, pada Sabtu (28/6/2025) (Istimewa).

Balidalamberita.com, BADUNG – Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, IGN Kesuma Kelakan, menegaskan bahwa prinsip Bhinneka Tunggal Ika harus terus dijaga sebagai fondasi pemersatu bangsa, bukan justru menjadi sumber konflik di tengah keberagaman Indonesia.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar yang berlangsung di Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, pada Sabtu, 28 Juni 2025. Kegiatan ini bertujuan menguatkan kembali pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Seorang warga menyampaikan pendapat dan pertanyaan kepada IGN Kesuma Kelakan saat sesi diskusi dalam Sosialisasi Empat Pilar di Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Sabtu (28/6/2025).

“Empat Pilar, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, adalah pegangan utama untuk menyatukan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai latar belakang. Kita harus rawat ini bersama,” ujar Kesuma Kelakan.

Ia menjelaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara memiliki peran penting dalam mengatur perilaku bermasyarakat secara berkeadaban. Nilai-nilai seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial menjadi penopang kehidupan harmonis yang penuh toleransi.

“Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial, Pancasila menjadi kompas moral yang relevan untuk mencegah konflik serta memperkuat solidaritas,” tambahnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap UUD 1945 sebagai dasar konstitusi negara. Melalui sosialisasi ini, masyarakat diharapkan semakin sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta pentingnya menjunjung supremasi hukum dan demokrasi.

Mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Kesuma Kelakan menyebut bahwa semangat nasionalisme harus terus ditanamkan agar masyarakat siap menghadapi berbagai tantangan kebangsaan, termasuk paham radikal, disintegrasi, dan intoleransi.

“Dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika, kita diingatkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan. Justru dari perbedaan suku, agama, dan budaya inilah bangsa Indonesia terbentuk dan bisa besar,” tegasnya.

Kesuma Kelakan yang juga anggota Komisi VI DPR RI itu menyatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap identitas kebangsaan, serta membangun semangat gotong royong dalam menghadapi tantangan zaman.

“Empat Pilar ini adalah konsensus dasar bangsa Indonesia yang wajib dipahami oleh seluruh rakyat agar tercipta kehidupan berbangsa yang rukun, adil, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *