Oktober 15, 2026
salah seorang disabilitas peserta Kartini Go Surf 2026

salah seorang disabilitas peserta Kartini Go Surf 2026. Gilang/Balidalamberita.com

Balidalamberita.com, DENPASAR—Sebanyak 20 peserta ambil bagian dalam kegiatan ini, termasuk enam peselancar penyandang disabilitas tunarungu dari Team Corti Deaf Surfers memperingati Hari Kartini dengan berselancar menggunakan kebaya di Pantai Kuta, Kabupaten Badung.


Event bertajuk Kartini Go Surf bagian dari upaya memperkenalkan dunia surfing sekaligus menjaga semangat emansipasi yang digaungkan oleh RA Kartini. Pencetus ide Kartini Go Surf, Bagus Made Wirawan mengatakan ide berselancar menggunakan kebaya lahir dari keinginan menghadirkan sesuatu yang berbeda sekaligus membangun kebanggaan terhadap budaya Indonesia.

“Kalau surfing pakai bikini itu sudah biasa. Kita bangsa Indonesia harus bangga dengan Kartini,” ujarnya pendiri majalah surfing Magi Wave ini pada Minggu, 19 April 2026.

Menurutnya sejak pertama kali digelar pada 2010, Kartini Go Surf terus berkembang dan mendapat respons positif. Tahun 2026 menjadi penyelenggaraan ke-12, setelah sempat vakum saat pandemi Covid-19. Pria yang akrab dipanggil Piping ini menegaskan bahwa kegiatan ini terbuka untuk semua kalangan. Dia menekankan bahwa tantangan berselancar dengan kebaya justru menjadi daya tarik tersendiri.

“Selama bisa berdiri di atas papan, silakan ikut. Kalau merasa terpanggil sebagai Kartini, join saja. Kalau tidak pernah mencoba sesuatu yang dianggap sulit, ya tidak akan pernah terjadi,” tegasnya.

Lebih lanjut ditegaskan pada tahun ini pihaknya melibatkan disabilitas untuk menegaskan bahwa surfing adalah olahraga bagi siapapun saja.

Ketua Yayasan Corti Bali yang menaungi disabilitas tuna rungu, I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari menjelaskan bahwa partisipasi tim tunarungu menjadi bagian dari komitmen inklusi dalam kegiatan ini. Dia menuturkan tahun ini merupakan keikutsertaan yang ketiga kalinya.

“Anak-anak sangat antusias dan bahkan ingin terus berlatih. Surfing justru menjadi aktivitas yang membantu fokus bagi penyandang tunarungu. Di air itu seperti meditasi, mereka jadi sangat fokus dan tidak terpengaruh hal lain,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *