Tradisi Mesuryak (Sumber foto: kintamani.id)
Balidalamberita.com, TABANAN – Pulau Bali tidak hanya terkenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekayaan tradisinya yang penuh makna. Salah satu tradisi yang paling menarik dan populer di kalangan wisatawan adalah Tradisi Mesuryak yang berasal dari Desa Bongan, Kabupaten Tabanan.
Warga Desa Bongan menggelar Tradisi Mesuryak setiap Hari Raya Kuningan, yaitu sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan. Tradisi ini berlangsung mulai pukul 08.00 hingga siang hari dan menjadi bagian penting dari kalender keagamaan umat Hindu Bali.
Menurut artikel ilmiah Revitalization of Mesuryak Tradition in Bongan Village Tabanan Bali karya I Ketut Gede Harsana, masyarakat melaksanakan Mesuryak sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan rasa syukur atas limpahan berkah.
Selama prosesi, warga desa berkumpul dengan penuh keceriaan dan sukacita. Tradisi ini menjadi simbol harmonisasi, kearifan lokal, serta nilai-nilai spiritual yang terus dijaga. Tak heran jika Mesuryak menjadi momen penting penutup Hari Raya Galungan.
Dalam bahasa Bali, kata “Mesuryak” berarti bersorak atau berteriak dengan penuh kegembiraan. Tradisi ini ditandai dengan kebiasaan warga melempar uang ke udara. Dahulu, mereka menggunakan uang kepeng (koin tradisional Bali), namun kini banyak warga memilih menggunakan uang kertas dan koin rupiah.
Prosesi dimulai dengan sembahyang di pura keluarga atau pura utama desa. Keluarga berkumpul di pintu masuk rumah, lalu seorang tetua memimpin doa. Setelah ritual selesai, para anggota keluarga dengan gembira melemparkan uang ke udara. Uang tersebut kemudian dikumpulkan oleh warga lainnya sebagai simbol pembagian berkah dan kemakmuran.
Tradisi Mesuryak tidak hanya memperkuat hubungan spiritual dengan leluhur, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antarwarga desa. Tradisi ini menjadi wujud nyata kerukunan, gotong royong, serta kekayaan budaya Bali yang terus hidup hingga kini.
