Oktober 15, 2026
Sejarah Desa Dalung

potret taman Desa Dalung (sumber foto: Instagram @tjung_san)

Balidalamberita.com, BADUNG – Jika pergi ke Bali, sayang jika tidak mampir ke Desa Dalung karena desa ini memiliki sejarah yang cukup panjang untuk bisa kita ketahui.

Para pengunjung bisa mengunjungi tempat ini di Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung.

Jika berbicara mengenai kondisi masa lalu, lantas bagaimana sejarah dari Desa Dalung? Simak penjelasan lengkapnya.

Sejarah masa lalu dari Desa Dalung ternyata tidak lepas dari perselisihan keluarga dari kerajaan Mengwi.

Awal mulanya kisah ini dari Raja Mengwi ke-3 yang dikabarkan mempunyai anak lelaki yang diberi nama I Gusti Gede Meliling yang memiliki pusat pemerintahan saat itu di Padangluwah.

Perselisihan tersebut bermula saat berpulangnya I Gusti Gede Meliling, sehingga keturunannya dikabarkan melarikan diri hingga di Dalung.

Keturunannya mulai tidak akur, bahkan menyiapkan strateginya masing-masing.

Usai keadaan desa kembali kondusif terbentuklah sebuah desa, bernama Dalung.

Sehingga muncul provokasi dari kerajaan lain yang mengharapkan kerajaan Padangluwah yang dikenal memiliki tanah yang subur dan dianggap strategis.

Dalam perselisihan ini terjadi jebolnya terowongan yang menghubungkan sungai sehingga air tidak bisa mengalir ke arah Dam Gumasih.

Ini mengakibatkan terjadinya kekeringan di daerah tersebut, sehingga masyarakat setempat mengalami kondisi kelaparan.

Puncak perselisihan ketika pemerintahan dari I Gusti Gede Tibung yang dikenal sebagai cucu I Gusti Gede Meliling.

Pada upacara pengabenan ayahnya, yaitu I Gusti Gede Tegeh I, kerajaan Tibubeneng menjalankan aksi penyerangan.

Ketika itu kerajaan ini dipimpin oleh pemerintahan I Gusti Gede Mangku yang dikenal sebagai saudara tirinya dari I Gusti Gede Tegeh.

Pada peperangan tersebut, membuat I Gusti Gede Tibung meninggal dunia dan meninggalkan 4 anaknya.

Ke-4 anaknya tersebut pergi meninggalkan Padangluwah untuk pergi ke arah barat sungai Yeh Poh (saat ini dikenal dengan sebutan Banjar Kaja, Dalung).

Dengan kepergian dari ke-4 ahli waris tersebut maka kerajaan tidak ingin menjauh dari Padangluwah, karena masih menginginkan memberikan adanya suatu pertolongan masyarakat yang membutuhkan.

Ke-4 anak dari I Gusti Gede Tibung berusaha selalu dan memperkuat keyakinan diri agar tidak putus asa.

Dari sana kemudian muncul istilah “jangan patah” artinya “Eda Lung”, yang selanjutnya menggema hingga ke seluruh kawasan.

Terbentuknya desa ini juga tidak terlepas dari campur tangan dari keempat anak dari I Gusti Gede Tibung, yaitu:

  • I Gusti Gede Tegeh III,
  • I Gusti Nengah Tegeh,
  • I Gusti Gede Dauh, dan
  • I Gusti Ketut Dauh.

Seiring berjalannya waktu, semangat ini tetap dipertahankan sampai akhirnya kerajaan tersebut mendapatkan kedamaian.

Sehingga nama desa ini mulai terbentuk yang diberi nama Desa Dalung.

Berasal dari kata Eda Lung, bermakna tidak patah, selanjutnya diubah menjadi Dalung.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *