Potret pantai Pandawa, Desa Adat Kutuh (Sumber foto: godestinationvillage.com)
Balidalamberita.com, BADUNG – Sekarang ini, Desa Adat Kutuh dianggap sebagai salah satu desa adat Bali dan destinasi wisata yang ada di pulau dewata, mengingat lokasi Pantai Pandawa yang mendunia ada di sekitar desa ini.
Bukan hanya itu, desa tersebut juga mempunyai Pantai Gunung Payung yang sama-sama menakjubkannya bersama dengan Pantai Pandawa.
Selain itu, garis pantainya yang menakjubkan membuat Desa Kutuh juga dikenal luas mengenai kekayaan warisan budaya serta kelestarian lingkungan.
Masyarakat desa tersebut terus menjunjung tinggi tradisi kebudayaan dari para leluhur dan nilai-nilai adat yang ada di Bali.
Desa Kutuh sebagai contoh utama mengenai bagaimana masyarakat setempat bisa menjaga keseimbangan diantara kelestarian alam, budaya, dan juga dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi.
- Asal Muasal Nama Kutuh
Nama “Kutuh” mempunyai makna yang mendalam dan memiliki hubungan erat dengan kondisi alam sekitar serta ciri khas desa Kutuh.
Menurut bahasa setempat, “Kutuh” artinya wilayah yang dipenuhi dengan tanaman, misalnya: pohon-pohon besar dan tumbuh subur yang ada di daerah tersebut.
Pohon-pohon besar ini menggambarkan kesuburan tanah yang sudah menopang kehidupan warga secara turun-temurun.
Daerah yang saat ini dikenal menjadi Desa Kutuh ini, dahulunya adalah tanah yang subur dan mempunyai banyak vegetasi.
Pada masa penjajahan Belanda, Desa Kutuh dianggap sebagai “Perbekelan” atau pemerintahan desa dengan pemimpin seorang Perbekel (kepala desa).
Tetapi, pada tahun 1941 setelah kekalahan Belanda dan kekuasaan kolonial yang runtuh, kemudian Desa ini bergabung bersama dengan Desa Ungasan.
Pemerintahan bersama tersebut kemudian berlanjut pad 2002, saat desa Kutuh kembali mempunyai status menjadi desa mandiri yang mempunyai identitas dan tata pemerintahan desa adatnya sendiri.
- Legenda Ni Rangdu Kuning
Pada tahun 1682, Kerajaan Badung dibangun di bawah kepemimpinan Ida Cokorda III atau bergelar Kyai Anglurah Pemecutan III.
Suatu hari, sang raja melaksanakan perjalanan dengan menggunakan sebuah hutan yang berlokasi di kaki bukit selatan Bali.
Hutan ini dikenal luas karena kesakralan, pemandangan yang indah, dan suasananya yang dikenal menenangkan.
Menurut perjalanannya, ia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang bernama Ni Rangdu Kuning, yang memiliki kecantikan bisa memikat siapa pun untuk melihatnya.
Raja jatuh cinta kepada Ni Rangdu Kuning, kemudian selanjutnya mereka berdua akhirnya menikah. Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang anak lelaki, yang diberikan nama I Gusti Ngurah Ungasan.
Tetapi, pada suatu hari, raja pergi meninggalkan Ni Rangdu Kuning dan kembali ke Puri Pemecutan, dikabarkan ia tidak pernah kembali lagi menemui istri dan anaknya. Selanjutnya, Ni Rangdu Kuning membesarkan anaknya tersebut seorang diri.
Karena raja tidak pernah kembali, Ni Rangdu Kuning kemudian pergi melakukan perjalanan di arah timur dan tiba di wilayah yang tidak begitu dikenal, namun di sana ia menemukan banyak pohon besar atau Pohon Kutuh.
Kedua pohon besar yang ada di sana masih berdiri kokoh dan hingga sekarang ini menjadi bukti sejarah. Karena banyaknya pohon Kutuh yang ada di daerah tersebut, Ni Rangdu Kuning kemudian menamakan wilayah tersebut dengan sebutan Kutuh.
Hal ini karena nama yang selanjutnya diadopsi oleh warga masyarakat setempat menjadi nama resmi yang ada dalam desa tersebut. Maka saat ini, tempat ini dikenal dengan nama Desa Kutuh atau bisa dikatakan sebagai Desa Adat Kutuh.
