Oktober 15, 2026
Desa Trunyan

potret Anang dan Ashanty saat mengunjungi Desa Trunyan (sumber foto: Instagram @ashanty_ash)

Balidalamberita.com, BANGLI – Tak lengkap rasanya jika ke Bali tapi tak mengunjungi Desa Trunyan dengan tradisi pemakaman yang sangat menarik.

Warga yang meninggal dunia di Desa Trunyan dikabarkan tidak dikuburkan ke dalam tanah atau bahkan tidak melalui proses kremasi.

Tetapi jenazahnya tersebut hanya diletakan saja di bawah sebuah pohon yang dikenal dengan pohon Taru Menyan yang dipercaya bisa menghilangkan bau mayat orang yang meninggal sehingga menimbulkan bau harum.

Namun hanya kriteria jenazah tertentu yang mengikuti prosesi ini karena adanya persyaratan dari leluhur, diantaranya:

  1. Jika meninggal dunia dengan kondisi yang wajar, sudah menjalani pernikahan, dan anggota tubuhnya masih lengkap maka melalui proses Mepasah di Sema Wayah atau diletakan di bawah pohon Taru Menyan.
  2. Jika meninggal dunia dengan kondisi yang tidak wajar, contohnya kecelakaan, pembunuhan, atau bahkan bunuh diri maka jenazahnya akan diletakan di Sema Bantas.
  3. Penguburan bayi, anak kecil, dan orang yang dewasa tetapi belum menikah maka nantinya di Sema Muda.

Berikut ini sedikit penjelasan tentang Sejarah Desa Trunyan, dikisahkan Raja Surakarta mempunyai 4 orang anak, diantaranya: 1 orang anak perempuan dan 3 orang anak laki-laki.

Saat keempat saudara ini pergi ke arah timur dan tiba di pulau Bali, mereka mencium bau yang sangat harum.

Ketika tiba di Gunung Batur, bungsu perempuan ingin tinggal di tempat tersebut hingga dijuluki Ratu Ayu Mas Maketeg.

Kemudian perjalanan berikutnya, diselingi perselisihan hingga anak ketiga ditendang oleh kakak sulungnya hingga dirinya mendapatkan gelar Ratu Sakti Sang Hyang Jero.

Pose dari anak ketiga bisa kamu temukan ketika berada di Desa Kedisan, Pura Dalem Pingit.

Berlanjut pada perselisihan berikutnya, lantaran anak kedua melihat gadis cantik di Desa Abang Dukuh.

Perjalanan berikutnya dilakukan seorang diri hingga sampai di lokasi tumbuhnya Pohon Taru Menyan.

Saat itu, anak sulung tersebut melihat gadis cantik hingga keduanya memutuskan untuk
Anak pertama akhirnya menjadi sepasang suami istri.

Setelah itu, ia diberi gelar Ratu Sakti Pancering Jagat yang merupakan dewa tertinggi di Desa Trunyan dan menjaga desa tersebut dari ancaman pihak luar.

Sedangkan Istrinya tersebut mendapatkan gelar Ratu Ayu Pingit dan dianggap sebagai pelindung dari Danau Batur.

Jika ingin berkunjung ke Desa Trunyan, lokasinya sendiri berada di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *