
Balidalamberita.com, BANGLI – Desa Penglipuran merupakan salah satu desa adat di Bali yang namanya telah dikenal luas, bahkan hingga ke mancanegara.
Tak hanya berfungsi sebagai desa adat, Penglipuran juga dikenal sebagai Desa Wisata sekaligus Desa Budaya yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisi leluhur.
Keunikan Desa Penglipuran tidak hanya terletak pada keindahan tata ruangnya yang tertata rapi, tetapi juga pada kekayaan adat istiadat, budaya Bali, dan kesenian yang tetap lestari hingga kini.
Lalu, apa saja yang menjadikan Desa Adat Penglipuran begitu istimewa?
Filosofi Hidup: Tri Hita Karana
Berdasarkan penelitian Made Agus dan rekan-rekannya yang dipublikasikan dalam Indonesian Values and Character Education Journal (IVCEJ), kehidupan masyarakat Desa Penglipuran berlandaskan pada filosofi Tri Hita Karana.
Filosofi ini menggambarkan tiga sumber terciptanya kebahagiaan hidup, yakni Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.
- Parahyangan
Mengajarkan pentingnya menjaga hubungan yang selaras antara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa.
- Pawongan
Menekankan hubungan harmonis antarsesama manusia, saling menghormati, dan hidup dalam kebersamaan.
- Palemahan
Mengandung makna keseimbangan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya, agar tercipta kehidupan yang berkelanjutan.
Ketiga unsur inilah yang menjadi fondasi utama harmoni masyarakat Penglipuran dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kesenian dan Tarian Tradisional
Desa Penglipuran juga dikenal sebagai pusat pelestarian seni tari Bali. Beragam pertunjukan seni dapat ditemukan di sini, seperti Drama Gong, Joged Bumbung, Tari Baris Bedil, Tari Baris Jojor, Tari Baris Presi, dan Tari Arja.
Salah satu tarian khasnya adalah Tari Sekaa Janger Penglipuran, sebuah tarian pergaulan muda-mudi yang telah ada sejak tahun 1969.
Nama “Sekaa” sendiri diambil dari tokoh pahlawan setempat, Anak Agung Anom Mudita, yang dimakamkan di Desa Penglipuran.
Tarian ini berfungsi sebagai sarana hiburan, dan bahkan menjadi inspirasi bagi sejumlah desa lain di Bali untuk melestarikan budaya serupa.
Selain itu, seni topeng juga berkembang pesat di Penglipuran, dengan berbagai karya seperti Barong Ket, Topeng Serengeti, Barong Macan, dan Topeng Sidakarya masing-masing memiliki makna dan peran tersendiri dalam upacara adat Bali.
Letak Geografis dan Keindahan Alam
Secara geografis, Desa Penglipuran berada di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut.
Suhu udaranya yang sejuk dan lingkungan yang asri menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Jalan utama desa membentang sekitar 1 kilometer dengan lebar 4 meter, membentuk pola menurun yang simetris dan indah dipandang. Adapun batas wilayahnya meliputi:
Utara: Desa Adat Kayang
Timur: Desa Adat Kubu
Selatan: Desa Adat Cempaga
Barat: Desa Adat Cekeng
Secara astronomis, Penglipuran berada pada posisi 8,46° Lintang Selatan dan 115,35° Bujur Timur — menjadikannya salah satu permukiman tradisional yang paling teratur di Pulau Dewata.
Penutup
Desa Penglipuran bukan hanya simbol keindahan arsitektur tradisional Bali, tetapi juga cerminan kehidupan masyarakat yang berlandaskan harmoni, spiritualitas, dan cinta lingkungan.
Filosofi Tri Hita Karana yang dipegang teguh menjadikan desa ini tidak hanya menarik sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai sumber inspirasi tentang bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam dan sesamanya.
