Oktober 16, 2026
WhatsApp Image 2026-05-30 at 04.45.38

Balidalamberita.com, DENPASAR—BPR Kanti meluncurkan transformasi budaya perusahaan terbaru dengan memperkenalkan konsep kepemimpinan Lawar Leadership untuk menjadi bank komunitas.

Peluncuran ini menegaskan keyakinan bahwa transformasi organisasi yang berkelanjutan hanya dapat dibangun di atas fondasi budaya yang kuat, kepemimpinan berbasis nilai, dan keberpihakan nyata kepada komunitas. Dirut BPR Kanti Made Arya Amitaba menungkapkan momentum ini bukan sekedar inisiatif ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan model kepemimpinan yang berakar pada kearifan lokal Bali, sekaligus menjawab kebutuhan zaman akan tata kelola kelembagaan yang adaptif, humanis, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

“Momentum ini bukan sekadar peluncuran sebuah buku dan transformasi organisasi. Ini adalah peneguhan arah Sebuah deklarasi nilai. Sebuah ikhtiar bersama untuk menghadirkan model kepemimpinan yang berakar kuat pada budaya, bertumbuh melalui transformasi, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat,” ujarnya pada Jumat, 29 Mei 2026.

Rencananya, peluncuran budaya baru perusahaan sekaligus konsep Lawar Leadership dalam bentuk buku Lawar Leadership: Inspirasi Kepemimpinan Peramu Lawar dalam Melakukan Transformasi Budaya Perusahaan tersebut akan dilakukan bertepatan Hari Lahir Pancasila. Arya Amitaba menegaskan BPRKanti memilih untuk menegaskan kembali sebuah keyakinan bahwa masa depan yang kuat tidak dapat dibangun hanya dengan kecanggihan sistem, teknologi, dan modal, melainkan harus ditopang oleh karakter, integritas, budaya, serta kepemimpinan yang berjiwa pengabdian.

Peluncuran tersebut sekaligus menjadi simbol lahirnya sebuah gerakan nilai. Gerakan yang menghubungkan warisan kebijaksanaan leluhur dengan kebutuhan zaman modern.

“Gerakan yang meyakini bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi energi masa depan,” ungkapnya.

Buku Lawar Leadership tersebut merupakan karya bersama Made Arya Amitaba, dengan KS Arsana, dan Ketut Susila Dharma. Isi dari buku menghadirkan perspektif baru tentang kepemimpinan berbasis budaya Bali, kepemimpinan dengan mengangkat filosofi lawar, kuliner tradisional Bali. Metafora kepemimpinan Lawar, kuliner tradisional Bali yang diracik dari berbagai unsur berbeda menjadi satu kesatuan rasa yang harmonis, dijadikan metafora kepemimpinan yang mendalam.

 Sebagaimana seorang peramu lawar menyatukan berbagai bahan dengan penuh ketelitian, keseimbangan, dan rasa, demikian pula seorang pemimpin dituntut mampu meramu keberagaman manusia, nilai, karakter, kompetensi, dan visi menjadi kekuatan kolektif yang utuh, berbagai unsur yang berbeda namun menyatu dalam harmoni rasa.

Buku ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya kemampuan mengelola organisasi, melainkan kemampuan merawat kehidupan. Kemampuan menjaga harmoni, memuliakan manusia serta menghadirkan makna di tengah perubahan.

“Nilai-nilai luhur Bali yang menjadi ruh buku ini antara lain; Ngayah sebagai spirit pelayanan tulus; menyama braya sebagai fondasi persaudaraan; integritas sebagai base genep kepemimpinan; harmoni dalam keberagaman; kepemimpinan berbasis rasa, keteladanan, dan kebijaksanaan,” tegasnya.

 Lebih dari sekadar teori, buku ini merupakan refleksi pengalaman nyata transformasi budaya yang dijalankan dalam praktik kepemimpinan.Buku ini lahir dari pengalaman nyata Made Arya Amitaba, sosok pemimpin yang berhasil mentransformasikan budaya kerja melalui pendekatan kepemimpinan berbasis nilai, baik dalam dunia profesional maupun dalam pengabdiannya di Desa Adat.Lebih dari sekadar teori, buku ini lahir dari pengalaman nyata transformasi budaya yang dijalankan dalam praktik kepemimpinan.

Melalui filosofi ngayahin pengayah, buku ini mengajak para pemimpin untuk memahami bahwa kemuliaan kepemimpinan tidak diukur dari tingginya jabatan, melainkan dari ketulusan melayani mereka yang telah melayani masyarakat. Karena sesungguhnya, pemimpin besar bukanlah mereka yang paling berkuasa. Pemimpin besar adalah mereka yang paling mampu menghadirkan manfaat. Bukan mereka yang paling banyak dihormati. Melainkan mereka yang paling tulus mengabdi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *