Potret Desa Tigawasa (sumber foto: Instagram @balebengong diedit dengan Picsart)
Balidalamberita.com, DENPASAR – Desa adat yang satu ini wajib sekali dikunjungi saat berlibur ke Bali, yaitu Desa Adat Tigawasa. Saat mengunjungi desa ini, pengunjung akan disuguhkan banyak hal menarik tentang Desa Adat Tigawasa.
Desa adat yang berlokasi di Buleleng ini dikenal masih mempertahankan kebudayaan atau tradisi-tradisi kuno. Banyak keunikan yang tercipta dari desa ini, saat mengunjunginya terutama berkaitan erat dengan sejarah dari desa tersebut.
Berdasarkan ilmu bahasa, Tigawasa mempunyai arti 3 desa. Ketiga desa ini terdiri dari Banjar Kuum Mungggah, Banjar Pangus, dan Banjar Sanda. Desa ini mempunyai luas wilayah hingga sekitar 1.690 hektare dan terbentang pada pegunungan hingga menuju ke arah pantai.
Lantas bagaimana sejarah Desa Adat Tigawasa? Berikut penjelasan lengkapnya. Berdasarkan catatan sejarahnya, usai kemerdekan Indonesia, desa Tigawasa terbagi pada 5 wilayah.
Wilayah tersebut terdiri atas Tigawasa, Bingin Banjah, Bunut Panggang, Labuan Aji, dan Tukad Cebol (Kaliasem). Melansir dari tigawasa-buleleng.desa.id, Desa Tigawasa adalah desa purbakala dan termasuk golongan desa Bali Aga karena mempunyai sejumlah benda-benda bersejarah atau purbakala.
Desa ini dianggap salah satu desa purba karena di desa ini ada benda-benda bersejarah, salah satunya adalah ditemukannya kapak batu. Kapak batu ini biasanya memiliki warna putih serta hitam.
Warga lokal di sana biasa menyebutnya dengan sebutan gigin kilap dan menganggapnya sebagai batu bertuah. Tentunya gigin kilap tersebut direndam hingga air rendamannya tersebut disiramkan dalam tanaman padi supaya tidak diserang oleh hama.Adapun benda lainnya yang dianggap sebagai bukti sejarah desa seperti peti mati yang terbuat dari batu cadas. Selain itu, terdapat gamelan yang berasal dari perunggu hingga berbagai macam barang-barang sakral.
Selain dikenal menyimpan berbagai benda purbakala. Konon katanya, penduduk desa menganut kepercayaan yang berasal dari Dewa Swambu. Selain itu, desa tersebut juga mempunyai tradisi yang unik yaitu tidak mengenal dengan istilah pembakaran pada mayat atau yang kita kenal dengan upacara ngaben.
Jadi, pada pemakaman yang dilakukan di desa ini dengan proses dikubur ke dalam tanah. Tradisi tersebut masih diadakan bahkan hingga saat ini secara turun temurun. Tradisi yang menarik lainnya adalah Meboros Kidang. Meboros Kidang adalah kegiatan berburu rusa ataupun kijang dalam pecaruan menyambut datangnya hari Nyepi Desa.
Jika ingin mengunjungi Desa Tigawasa tersebut silakan kunjungi alamat ini: kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Jaraknya yang berada di pusat Kota Denpasar dan bisa ditempuh dengan jarak sekitar 75 km atau perjalanan kurang lebih 2 jam 17 menit.
