
Balidalamberita.com, DENPASAR – Pemasangan penjor biasanya berlangsung saat hari penampahan galungan atau pada pukul 12.00 siang.
Waktu ini dipilih oleh umat Hindu Bali karena melambangkan manusia yang tengah berperang melawan pikiran yang kotor, perang dari sikap negatif, dan sikap egois yang dimiliki manusia.
Setelah berhasil sebagai pemenang pada peperangan melawan kondisi negatif tersebut maka kemenangan akan diraih sehingga pemasangan penjor merupakan simbol “kemenangan”. Umat Hindu Bali perlu mengenal dua tipe penjor, meliputi:
- Penjor Hiasan merupakan bagian dari sebuah acara yang tidak memiliki hubungan dengan upacara keagamaan, seperti halnya hiasan lomba di suatu desa adat dan pesta kesenian hingga budaya adat Bali.
- Penjor Sakral yaitu bagian dari suatu upacara keagamaan, seperti upacara Galungan serta piodalan di pura.
Menurut lontar Tutur Dewi Tapini juga sudah disebutkan apabila setiap unsur dalam penjor melambangkan simbol suci, seperti:
- Bambu melambangkan vibrasi kekuatan Dewa Brahma,
- Kain Kuning serta Janur melambangkan merupakan vibrasi Dewa Sangkara,
- Kain Putih melambangkan vibrasi Dewa Iswara,
- Kelapa melambangkan vibrasi Dewa Rudra,
- Padi melambangkan vibrasi Dewi Sri,
- Pala Bungkah dan Pala Gantung melambangkan vibrasi Dewa Wisnu,
- Sanggah melambangkan vibrasi Dewa Siwa,
- Tebu melambangkan vibrasi Dewa Sambu,
- Upakara melambangkan vibrasi Dewa Sradha Siwa dan Parama Siwa.
Penjor dikenal sebagai simbol dari Naga Basuki sehingga dilambangkan dengan kesejahteraan atau kemakmuran.
Bagi umat Hindu Bali, Penjor merupakan simbol gunung yang dipercaya memiliki kesucian.
