Oktober 16, 2026
Ilustrasi sampah di Jimbaran Lestari (Sumber foto: Pixabay/Pexels)

Balidalamberita.com, BADUNG – Penutupan TPA Suwung yang terlihat sudah ‘di ujung tanduk’ serta tidak adanya lahan untuk membangun TPST, sehingga membuat Desa Adat Jimbaran perlu putar otak.
Alhasil, tercetuslah ide dalam menjalin hubungan baik dengan Jimbaran Lestari yang bergerak dalam penanganan sampah yang berasal dari akomodasi wisata misalnya hotel dan restoran.
Pada Rabu (13/8/2025), Ketua Tim Percepatan Pembangunan Desa Adat Jimbaran, Anak Agung Bagus Mutiara Arsana Putra mengungkapkan dokumen kerja sama sudah resmi ditandatangani dan tinggal menunggu persetujuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung, Bali.
Menurutnya, kerja sama yang dimaksud adalah cara cepat dalam menyikapi adanya perkembangan yang terjadi sekarang ini.
Karena jika pembangunan TPST sendiri, tentunya memerlukan tempat, waktu, dan dana yang tidak sedikit.
“Kita sudah mengajukan ke Pak Bupati, ada 1 tempat, serta mudah-mudahan itu segera disetujui. Tapi itu kan baru lahan saja, belum membangun, belum ada mesin, dan segala macam. Jadi itu next time lah,” terangnya.
Oleh sebab itu, jalinan kerja sama yang terjadi dengan Jimbaran Lestari, dipandang merupakan sebuah solusi yang sangat baik. Sehingga adanya suatu penanganan pastinya terhadap berbagai sampah yang dihasilkan oleh masyarakat.
“Selama ini, sampah-sampah dari masyarakat ini kita bawa ke TPA Suwung dengan menggunakan transporter (jasa angkut sampah di Desa Adat Jimbaran). Sementara Jimbaran Lestari, selama ini hanya melakukan penanganan terhadap sampah dari hotel dan restoran di seputar Jimbaran dan Nusa Dua,” ucapnya.
Dengan adanya kerja sama tersebut, maka selanjutnya sampah dari warga akan diarahkan ke Jimbaran Lestari. Dalam menekan biaya yang ada kepada warga, maka rencananya akan dimintakan subsidi kepada Pemkab Badung.
“Kita sudah pernah audiensi tentang ini kepada Pemda,” terangnya sambil mengungkapkan tentang volume sampah yang berasal dari warga Jimbaran bisa mencapai sekitar 30 ton/hari.
Menurutnya, di Jimbaran Lestari, sampah tersebut rencana kedepannya akan diolah menggunakan sistem Waste to Energy (WtE) dan Waste to Ash (WtA). Hanya saja untuk WtE, sekarang ini masih belum beroperasi lantaran mesinnya belum datang.
“Kalau WtA itu sampah dihancurkan untuk dijadikan debu. Itulah yang dimanfaatkan sebagai bahan membuat paving, dan itu sudah dilakukan. Sedangkan untuk sampah organik, itu kemudian diolah sebagai kompos,” ucapnya.
Diakuinya, jika di Jimbaran Lestari juga dilaksanakan pemilahan terlebih dahulu sebelum diolah. Tetapi, dalam percepatan proses yang ada, maka pihaknya akan mencanangkan sosialisasi supaya masyarakat bisa menjalankan pemilahan sendiri.
“Kita di desa adat sesungguhnya telah memiliki pararem. Jadi nanti kita akan mengatur jadwal pengambilan sampah organik dan anorganik. Seperti 2 hari sekali organik serta 2 hari sekali anorganik,” terangnya sambil berharap supaya warga bisa tertib untuk membuang sampahnya berdasarkan jadwal dan waktu yang telah ditetapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *