
Balidalamberita.com, BANGLI – Akibat letusan Gunung Batur yang terjadi pada 2 Agustus 1926 atau seratus tahun lalu mengakibatkan masyarakat Desa Batur kuno melakukan relokasi menuju Desa Karanganyar yang saat ini diubah menjadi Desa Batur.
Namun setelah kejadian tersebut, masyarakat Batur tetap kembali ke desa kuno mereka saat pujawali diadakan.
Mereka berdiam untuk beberapa hari kedepan di tempat tersebut maka lahirlah Tradisi Medunungan.
Penjelasan Singkat tentang Tradisi Medunungan
Tradisi Medunungan adalah kondisi tinggal bersama yang dijalankan oleh warga Desa Batur di sebuah lokasi sambil membuka beberapa tenda sebelum pelaksanaan Purnama Kasa yang merupakan perayaan pujawali Pura Jati.
Tradisi adat Bali ini berlangsung selama 3-4 hari.
Tradisi ini dilaksanakan dalam kondisi yang sederhana dengan memakai bambu serta terpal, alat penerangan tradisional dan tidak ketinggalan terdapat hiburan yang terbatas dengan menggunakan musik dan tari-tarian tradisional pada pura.
Dengan tingginya antusiasme yang diberikan oleh masyarakat, tidak jarang yang telah medunungan sejak satu minggu sebelumnya.
Sejak dari tahun 2000-an, Tradisi ini mulai mengalami perubahan, namun bangunan yang ada sudah pada format semi permanen dengan memakai batako, semen, hingga seng.
Sementara listrik juga sudah tersedia dan penjaja makanan hingga pasar malam yang ada dari luar juga kerap hadir.
Sampai sekarang ini, belum ditemukan adanya catatan historis yang mengatakan waktu pertama kali tradisi tersebut awal mulai dipraktekkan di sana.
Prosesi “Ngiring Ida Bhatara”
Selain Tradisi Medunungan, masyarakat juga melaksanakan prosesi bernama “Ngiring Ida Bhatara” yang berasal dari Pura Ulun Danu Batur ke Pura Jati pada rangkaian pujawali tersebut.
Kabarnya mereka akan berjalan kaki serta memikul pralingga hingga benda-benda sakral lainnya dalam waktu sekitar 3-4 jam.
Benda tersebut adalah barang-barang yang berhasil diselamatkan saat dilakukan proses evakuasi letusan Gunung Batur yang terjadi ratusan tahun yang lalu.
Mengenal ‘Atos’ dan ‘Salaran’
Keistimewaan lain yang ada pada prosesi pujawali tersebut ada pada ‘atos’ dan ‘salaran’ yang menjadi persembahan hasil bumi.
Atos adalah palawija yang meliputi beras, kelapa, dan lain sebagainya, sedangkan salaran adalah kurban kambing hitam.
Pujawali merupakan momentum dalam menyatakan rasa syukur dan menebus utang piutang terkait permohonan (mesesangi) misalnya sembuh dari penyakit, mendapatkan pekerjaan yang dicita-citakan dan lain sebagainya.
Itulah tadi penjelasan seputar Tradisi Medunungan yang menjadi salah satu tradisi adat Bali.
