Matigtig, Tradisi Unik Desa Bebandem (Sumber foto: Istimewa)
Balidalamberita.com, KARANGASEM – Masyarakat Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, terus melestarikan sebuah tradisi sakral bernama Matigtig. Tradisi ini dilaksanakan dua tahun sekali sebagai bentuk penolakan terhadap wabah penyakit (gerubug) dan penyucian batin masyarakat dari unsur negatif.
Upacara adat ini digelar di Jaba Pura Bale Agung, Banjar Desa Tengah, Desa Adat Bebandem. Istilah matigtig berasal dari kata dalam Bahasa Bali, tigtig, yang berarti “memukul berturut-turut”.
Makna dan Manfaat Tradisi Matigtig
Tradisi Matigtig dipercaya sebagai sarana spiritual untuk menetralisir energi negatif dan “musuh dalam diri” manusia. Berdasarkan keyakinan masyarakat, ritual ini mampu membersihkan:
- Tri Mala: tiga kotoran jiwa (kebodohan, keserakahan, dan kemarahan)
- Sad Ripu: enam musuh batin (kama, loba, kroda, moha, mada, matsarya)
Dengan melaksanakan Matigtig, masyarakat berharap tubuh dan batin menjadi lebih bersih dari pengaruh negatif, termasuk emosi seperti kebencian dan ketamakan, sehingga tercipta kedamaian batin dan keseimbangan alam.
Prosesi Sakral Penuh Semangat Ksatria
Dalam prosesi Matigtig, para peserta—laki-laki dari berbagai usia—saling memukul punggung satu sama lain menggunakan papah biu (pelepah pisang). Mereka tidak mengenakan pakaian atasan sebagai simbol keterbukaan diri untuk menerima berkah dan penyucian spiritual.
Uniknya, meski ritual ini melibatkan pukulan, tidak ada emosi marah yang terlibat. Proses berlangsung spontan, dan peserta bebas memilih lawannya, tetapi tetap dalam nuansa tulus dan penuh rasa hormat.
Dimulai dengan Upacara Mabiasa
Sebelum ritual pemukulan dimulai, warga melaksanakan Upacara Mabiasa, yaitu persembahan besar dan pembersihan rohani kepada Ida Bhatara yang disungsung oleh Desa Adat Bebandem dan Bugbug. Upacara ini juga mencakup ritual ngeliling desa untuk memohon perlindungan dan kedamaian bagi wilayah Bebandem.
Bekas Pukulan sebagai Simbol Pengorbanan
Usai prosesi, bekas pukulan yang tampak di punggung atau lengan peserta menjadi tanda nyata partisipasi mereka dalam tradisi ini. Meski meninggalkan memar atau kemerahan, bekas tersebut justru dianggap sebagai simbol keberanian dan pengorbanan untuk menjaga keharmonisan desa dan alam semesta.
Untuk meredakan nyeri, peserta kemudian diolesi ramuan tradisional berbahan herbal alami. Proses ini mencerminkan keterhubungan antara tubuh, alam, dan spiritualitas dalam tradisi Bali.
Menjaga Alam, Menjaga Jiwa
Lebih dari sekadar ritual, Matigtig adalah cerminan semangat ksatria masyarakat Desa Bebandem. Tradisi ini menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya peduli pada kebersihan fisik, tetapi juga pada kebersihan jiwa dan keseimbangan alam.
Dengan melestarikan Matigtig, warga Bebandem turut menjaga identitas budaya Bali yang penuh makna dan kepekaan terhadap dinamika kosmis.
