Oktober 16, 2026
Tumpek Krulut

Gubernur Koster membagikan tali kasih kepada para siswa SMA/SMK dan penyandang disabilitas sebagai simbol kepedulian dan cinta dari pemerintah.

Balidalamberita.com, DENPASAR — Ribuan warga memadati Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre Denpasar, Sabtu (7/6), untuk merayakan Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang versi dresta Bali. Perayaan ini tak hanya menampilkan seni budaya, tetapi juga menjadi ajang berbagi cinta kasih.

Gubernur Bali Wayan Koster, didampingi Ny. Putri Suastini Koster dan putri keduanya, tampil memberikan sambutan penuh makna dan emosi. Ia menekankan bahwa Tumpek Krulut merupakan warisan leluhur Bali yang mengajarkan kasih sayang universal terhadap sesama, alam, serta seni budaya.

“Tepuk tangan untuk Bali! Tepuk tangan untuk budaya kita sendiri!” seru Gubernur Koster, disambut riuh hadirin.

Gubernur Koster juga membagikan tali kasih kepada para siswa SMA/SMK dan penyandang disabilitas sebagai simbol kepedulian dan cinta dari pemerintah. Aksi tersebut mempertegas makna kasih dalam Tumpek Krulut.

Ia mengkritisi budaya Valentine’s Day yang sering dirayakan generasi muda, dan mengajak masyarakat Bali untuk kembali pada ajaran adiluhung dari leluhur sendiri. Menurutnya, Tumpek Krulut lebih relevan karena mengandung nilai spiritual dan sosial yang kuat.

“Perayaan ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah komitmen menjaga tradisi, budaya, dan harmoni hidup yang diwariskan leluhur,” tegasnya.

Dalam era digital saat ini, Koster mengingatkan generasi muda agar memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, bukan kebencian atau hoaks.

Tak hanya serius, suasana juga cair ketika Gubernur melontarkan candaan:

“Kalau belum punya pacar, sabar dulu ya. Saya doakan segera bertemu jodoh terbaik!”
Candaan ini disambut gelak tawa hangat dari para hadirin lintas usia.

Makna Tumpek Krulut: Kasih dalam Seni dan Kehidupan

Secara filosofi, Tumpek Krulut menstanakan Dewa Iswara sebagai manifestasi keindahan dan kebahagiaan. Kasih dalam Tumpek Krulut hadir lewat seni, musik, dan suasana yang harmonis. Perayaan ini menjadi pengingat pentingnya cinta kasih dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat Bali.

Gubernur Koster kembali menegaskan bahwa budaya harus menjadi fondasi dalam pembangunan Bali ke depan.

“Budaya bukan hiasan. Budaya adalah karakter dan jiwa pembangunan dari pendidikan, ekonomi, hingga lingkungan,” ujarnya.

Visi pembangunan Bali melalui Nangun Sat Kerthi Loka Bali juga menjadi landasan untuk menjaga warisan leluhur dan membangun masa depan yang lebih baik.

Bayu KW: Ini Langkah Besar untuk Budaya Bali

Penyanyi senior Bayu KW tampil memeriahkan malam Tumpek Krulut dan menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif Gubernur Koster.

“Baru pertama kali Tumpek Krulut dirayakan secara resmi sebagai Hari Kasih Sayang Bali. Ini langkah besar menjaga budaya kita,” ucapnya penuh semangat.

Bayu juga mengajak masyarakat untuk meneladani semangat gelut, asah, asih, asuh dalam kehidupan sehari-hari.

Acara ini turut dihadiri oleh Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra, pimpinan OPD Pemprov Bali, serta anggota DPRD Bali. Malam Tumpek Krulut pun bersinar bukan hanya karena lampu panggung, tetapi karena kasih yang menyatu dalam budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *