Oktober 15, 2026
Ngaben tanpa jenazah

Ilustrasi Desa Manggis, Bali (Sumber foto: telusur.balitrekker.com)

Balidalamberita.com, KARANGASEM – Desa Manggis di Kabupaten Karangasem, Bali, terkenal dengan keindahan alamnya serta kekayaan tradisinya. Terletak di pesisir timur Bali, sekitar 10–15 kilometer dari Kota Amlapura, desa ini menawarkan pesona Pantai Manggis dan Pantai Candidasa yang memikat wisatawan.

Namun, bukan hanya keindahan alam yang menjadi daya tarik Desa Manggis. Desa ini juga mempertahankan berbagai tradisi unik, seperti upacara pemotongan gigi (Metatah) dan terutama Ngaben tanpa jenazah, sebuah tradisi kolektif yang memperlihatkan kekuatan gotong royong masyarakat Bali.

Upacara Ngaben Tanpa Jenazah: Simbol Pembebasan Jiwa

Masyarakat Desa Manggis melaksanakan upacara Ngaben tanpa jenazah dalam kondisi tertentu, seperti saat pandemi COVID-19 yang membatasi pelaksanaan upacara secara normal. Tradisi ini tetap menjunjung tinggi nilai spiritual dan menghormati arwah leluhur tanpa kehadiran fisik jenazah.

Keluarga yang berduka akan berkoordinasi dengan pendeta setempat untuk menentukan hari baik berdasarkan perhitungan wariga (ilmu perbintangan Bali). Pada hari yang ditentukan, warga berkumpul di pura desa dengan membawa berbagai sesaji, seperti bunga, makanan, kemenyan, dan benda suci lainnya.

Prosesi utama dimulai dengan pawai Lembu atau Bebadak, yaitu replika binatang suci berbahan bambu dan kayu yang dihias indah. Warga mengarak lembu tersebut ke lapangan terbuka. Di sana, seorang pendeta memimpin doa-doa suci untuk mengantarkan roh menuju alam spiritual.

Puncak upacara terjadi saat lembu diletakkan di atas tumpukan kayu dan dibakar. Api tersebut melambangkan pembebasan jiwa dari dunia fisik, menandai perjalanannya menuju alam roh. Setelah api padam dan abu lembu mendingin, warga mengumpulkannya untuk disebar ke laut atau sungai—sebagai simbol pengembalian jiwa ke alam semesta.

Makna Mendalam Tradisi

Ngaben tanpa jenazah bukan sekadar alternatif saat keadaan mendesak. Tradisi ini mencerminkan keyakinan masyarakat Bali terhadap siklus kelahiran, kematian, dan reinkarnasi. Selain menjadi bentuk penghormatan spiritual, upacara ini juga mempererat persaudaraan antarwarga dan menguatkan nilai kolektif dalam kehidupan adat Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *