Ilustrasi Grafis Generasi Gen-Z. Balidalamberita.com/Istimewa.
Balidalamberita.com, DENPASAR – Berbagai langkah strategis yang dilakukan oleh Gubernur Bali Wayan Koster, dalam mendorong pelestarian adat, budaya, seni, tradisi dan kearifan lokal Bali sejak masa jabatannya di periode pertama. Ini adalah upaya yang sangat serius dan intensif, melalui berbagai upaya yang dilakukan untuk menjaga “Bali” tetap “Bali”.
Di balik upaya keras tersebut, peran literasi budaya menjadi satu hal yang penting. Proses transisi yang tidak dibarengi dengan pemahaman kontekstual dan konseptual yang baik, tentu akan membawa masalah tersendiri di masa depan, terutama dalam hal pemahaman utuh generasi millenial dan Gen Z terhadap warisan adat budaya, seni, tradisi dan kearifan lokal Bali.
Sebenarnya, diskusi mengenai rendahnya literasi budaya Bali pada generasi Z atau yang dikenal dengan Gen Z dan generasi millenial, telah lama menjadi perbincangan di kalangan pemerhati budaya. Hal ini dianggap sebagai salah satu ancaman bagi kelangsungan Bali, terutama pelestarian adat, budaya, seni, tradisi dan kearifan lokal di masa depan.
Kondisi rendahnya literasi budaya Bali ini, diperparah dengan kondisi riil tentang rendahnya minat membaca buku di kalangan Gen Z dan Generasi Millenial. Padahal selama ini, adat budaya, seni, tradisi dan kearifan lokal Bali diwariskan secara turun temurun melalui berbagai catatan, mulai dari prasasti, lontar-lontar dan buku.
Dari pengertiannya, Literasi budaya adalah kemampuan individu untuk memahami, menghargai, dan mengaplikasikan pengetahuan tentang berbagai aspek budaya. Selain itu, literasi budaya berperan untuk mengenali dan berinteraksi dengan ekspresi budaya di sekitarnya, termasuk norma, nilai, bahasa, adat istiadat, dan simbol-simbol khas serta memahami sejarah dan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu budaya serta cara budaya tersebut berinteraksi dengan masyarakat lain.
Dengan rendahnya minat membaca buku, lontar-lontar atau media lain yang berisi catatan tentang adat, budaya, seni, tradisi dan kearifan lokal, maka proses transisinya pasti akan mengalami hambatan. Apalagi ditambah budaya bertutur orang Bali yang tidak terlalu kuat, tampaknya kondisi ini adalah lampu kuning baru bagi Bali.
Upaya keras penguatan Desa Adat, tampaknya harus menyertakan isu ini. Setidaknya generasi muda Bali terutama Gen Z dan millenial menjadi salah satu sasaran dalam program penguatan tersebut terutama penguatan literasi dengan media yang lebih “akrab” dari media-media sebelumnya yang asing bagi generasi di masa depan.
Lontar, prasasti bahkan buku, dewasa ini bukanlah media yang “ramah” bagi mereka yang penuh dengan intervensi teknologi digital. Hal ini mau tidak mau, mesti disesuaikan oleh pemegang kebijakan yang rata-rata dilakukan oleh generasi millenial peralihan dan baby boomers.
