Momen diskusi Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, bersama mantan Menteri Agama RI, Dr. KH. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., dan seorang Bhikkhu sepuh.
Balidalamberita.com, DENPASAR – Ketua Umum Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Se – Indonesia, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, kembali menegaskan bahwa kerukunan merupakan fondasi utama dalam menjaga ketahanan nasional sekaligus menjadi modal besar bagi Indonesia untuk mewujudkan cita-cita sebagai bangsa yang maju, damai, dan sejahtera.
Pandangan tersebut disampaikan Ida Pangelingsir yang juga merupakan Bandesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) dalam dua Agenda Nasional yang berlangsung berurutan.
Pertama, saat menjadi narasumber pada Seminar Nasional Transformasi Kurikulum di Kampus Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (27/7/2026).
Dan sehari sebelumnya, Minggu (26/7/2026), saat Ida Pangelingsir menghadiri puncak Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) 2026 di kawasan Candi Borobudur, Magelang, sekaligus memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan berskala nasional tersebut.
Di hadapan peserta seminar di UGM, Ida Pangelingsir menjelaskan bahwa ketahanan nasional tidak hanya berbicara mengenai aspek pertahanan dan keamanan, tetapi mencakup seluruh sendi kehidupan bangsa, mulai dari ideologi, nilai-nilai agama, kerukunan, ekonomi, hukum, politik, pendidikan, teknologi, hingga kesejahteraan masyarakat.
Menurut Ida, di antara berbagai elemen tersebut, kerukunan bangsa merupakan unsur yang paling mendasar karena menjadi pondasi bagi keberhasilan pembangunan di sektor lainnya.
“Kerukunan adalah pondasi dan syarat mutlak pembangunan. Tanpa kerukunan, mustahil pembangunan dapat berjalan dengan baik,” tegas Ida Pangelingsir dihadapan para Profesor, Doktor dan mahasiswa di salah satu Kampus Terbaik di Indonesia Tersebut.
Ida mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara paling majemuk di dunia dengan keberagaman agama, suku, budaya, adat istiadat, dan bahasa.
Kemajemukan tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus terus dijaga agar tidak berubah menjadi sumber konflik.
Menurut Ida, apabila keberagaman mampu dirawat melalui semangat persaudaraan, toleransi, saling menghormati, dan gotong royong, maka Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara yang kuat dan disegani di dunia.
“Kalau NKRI adalah harga mati, maka kerukunan juga semestinya menjadi harga mati. Kerukunan antarumat beragama, antarsuku, antargolongan, antarpartai politik, antar lembaga negara, hingga antara pemerintah dan masyarakat merupakan syarat utama membangun Indonesia yang lebih maju,” ujar Ida Pangelingsir.
Dalam pemaparan tersebut, Ida juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, seperti meningkatnya konflik global, perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan (AI), penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, hingga masih terjadinya gesekan yang mengatasnamakan agama.
Karena itu, Ida mendorong adanya penguatan sistem kerukunan nasional, termasuk merekomendasikan pembentukan Undang-Undang Kerukunan Antarumat Beragama sebagai landasan hukum yang lebih kuat dalam menjaga persatuan bangsa.
Sementara itu, sehari sebelumnya di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Ida Pangelingsir Agung memberikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) 2026, yang diikuti sekitar 2.045 peserta dari berbagai daerah dan negara.
Menurut Ida, pelaksanaan ITC tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan umat Buddha, tetapi juga menghadirkan pesan universal mengenai pentingnya pembentukan karakter, penguatan nilai moral, dan pembangunan kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Kegiatan keagamaan memiliki peran penting dalam membangun karakter, memperkuat kepedulian sosial, dan menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis,” ungkap Ida.
Ida menilai pembangunan fisik yang terus dilakukan pemerintah akan kehilangan makna apabila tidak diimbangi dengan pembangunan karakter bangsa yang kuat.
“Bangunan fisik yang megah lambat laun akan rapuh apabila tidak ditopang oleh karakter masyarakat yang baik. Karena itu pembangunan spiritual dan pembangunan nasional harus berjalan beriringan,” ujar Ida.
Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet juga menegaskan bahwa kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Ida, setiap warga negara memiliki tanggung jawab untuk menjadi umat yang taat terhadap ajaran agamanya sekaligus warga negara yang mencintai tanah air.
Ida meyakini bahwa semakin mendalam seseorang memahami ajaran agamanya, semakin besar pula rasa kasih sayang, toleransi, dan penghormatan kepada sesama, termasuk kepada mereka yang memiliki keyakinan berbeda.
Pesan tersebut mendapat dukungan dari berbagai tokoh lintas agama yang hadir dalam kegiatan ITC. Mereka sepakat bahwa nilai-nilai agama seharusnya menjadi perekat persatuan, bukan sebaliknya menjadi sumber perpecahan.
Melalui dua forum nasional tersebut, Ida Pangelingsir Agung kembali menegaskan konsistensi Ida sebagai tokoh Bali yang memiliki peran secara nasional, dalam menggaungkan pentingnya kerukunan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Bagi Ida, pembangunan nasional tidak hanya membutuhkan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, maupun kemajuan teknologi, tetapi juga memerlukan masyarakat yang mampu hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan.
“Kerukunan adalah titah negara, titah agama, titah kearifan budaya lokal Indonesia, dan bagi masyarakat Bali juga merupakan titah leluhur. Selama kerukunan terus dijaga, Indonesia akan memiliki kekuatan besar untuk menjadi bangsa yang maju, berdaya saing, dan dihormati dunia,” pungkas Ida.
