Oktober 15, 2026
Hari Raya Galungan

Ilustrasi Hari Raya Galungan (Sumber foto: djkn.kemenkeu.go.id)

Balidalamberita.com, DENPASAR – Hari Raya Galungan menjadi salah satu hari besar keagamaan yang paling bermakna bagi umat Hindu di Bali. Perayaan ini merupakan simbol kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan), serta bentuk syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah kehidupan.

Hari Raya Galungan dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Bali (Pawukon), sehingga tanggal perayaannya berubah-ubah jika dibandingkan dengan kalender Masehi. Perayaan ini diawali dengan sejumlah rangkaian upacara yang berlangsung penuh khidmat dan sarat akan filosofi kehidupan.

Berikut adalah tujuh rangkaian penting dalam perayaan Hari Raya Galungan yang dilansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng:

1. Tumpek Wariga

Dilaksanakan 25 hari sebelum Galungan, Tumpek Wariga dikenal pula sebagai Tumpek Bubuh, Tumpek Pengarah, atau Tumpek Penguduh. Pada hari ini, umat Hindu memuja Sang Hyang Sangkara, Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh-tumbuhan, dengan mempersembahkan banten berupa bubur sumsum berwarna kepada pepohonan sebagai bentuk penghormatan.

2. Sugihan Jawa

Sugihan Jawa dilakukan enam hari sebelum Galungan. Kata “sugihan” berasal dari “sugi” (suci), dan “jawa” berarti luar. Hari ini melambangkan penyucian alam semesta atau Bhuana Agung. Umat Hindu melakukan upacara Mererebu dengan membersihkan lingkungan rumah dan merajan (tempat suci keluarga).

3. Sugihan Bali

Sehari setelah Sugihan Jawa, umat melanjutkan dengan Sugihan Bali yang bermakna penyucian Bhuana Alit (diri manusia). Penyucian dilakukan dengan membersihkan tubuh, mandi, serta memohon Tirta Gocara dari para sulinggih (pendeta), sebagai simbol pembersihan jiwa dan raga.

4. Hari Penyekeban

Tiga hari menjelang Galungan dikenal sebagai Hari Penyekeban, yang berasal dari kata “yekeb” (mengekang). Umat Hindu mulai mengekang hawa nafsu dan mempersiapkan diri secara spiritual agar siap menyambut kemenangan Dharma.

5. Hari Penyajahan

Dua hari sebelum Galungan, umat Hindu menghadapi godaan dari Bhuta Dungulan, simbol kejahatan dan kebingungan batin. Pada Hari Penyajahan, umat diuji keteguhannya dalam melawan pengaruh buruk melalui pengendalian diri dan pemantapan batin.

6. Hari Penampahan

Sehari sebelum Galungan disebut Hari Penampahan, di mana umat menyembelih babi sebagai simbol menghilangkan sifat kebinatangan dalam diri manusia. Berbagai sajian khas Bali mulai dipersiapkan untuk perayaan keesokan harinya.

7. Hari Raya Galungan

Puncak perayaan jatuh pada Hari Galungan, saat umat melaksanakan sembahyang di rumah dan pura untuk menghaturkan rasa syukur kepada Tuhan dan memuliakan leluhur. Penjor-penjor indah pun dipasang sebagai simbol kemakmuran dan penghormatan.

Makna Mendalam di Balik Tradisi

Rangkaian upacara ini tidak hanya memperkaya tradisi spiritual Bali, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kehidupan yang harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Hari Raya Galungan menjadi momentum untuk introspeksi, pembersihan lahir batin, serta penguatan keimanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *