Oktober 15, 2026
Pancoran Panca Dewata

Pancoran Panca Dewata di Desa Aan (Sumber : budayabali.com)

Balidalamberita.com, KLUNGKUNG – Desa Aan merupakan salah satu desa adat Bali yang ditetapkan menjadi desa wisata sejak tahun 2021.

Lokasi dari Desa Aan berada di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.

Salah satu tempat spiritual yang paling menonjol dan berdiri di desa ini, yaitu Pura Pasiraman, tempat penglukatan dan pembersihan diri secara spiritual.

Pada sekitar tahun 1600-an, Pura Pasiraman resmi dibangun berawal dari perjalanan I Gede Pasek Gelgel yang tengah mencari pohon beringin kembar yang menjadi tempat tinggal dengan adik-adiknya.

Ketika perjalanan, ia menemukan suatu sumber mata air yang jernih dan menyucikan diri di tempat tersebut. Sumber mata air ini selanjutnya diberi nama Pasiraman.

Keberadaan pura ini tidak hanya mencerminkan nilai sejarah, tetapi juga melambangkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Hingga kini, Pura Pasiraman terus menjadi simbol kesucian dan tempat yang memfasilitasi perjalanan spiritual umat Hindu maupun wisatawan.

Perjalanan ke Pura Pasiraman dikenal sangat menantang karena tempat ini berlokasi di dataran lebih tinggi daripada destinasi wisata lainnya di Desa Aan.

Wisatawan bisa menikmati suasana alami yang tenang dengan melewati jalan yang berliku dan menanjak, tempat ini dikelilingi oleh hutan yang asri.

Jalan ke arah pura ini belum diaspal, sehingga terlihat licin terutama ketika musim hujan tiba sambil mendengar suara alam yang bersahutan.

Sesampainya di pura tersebut, segala kesulitan yang dihadapi selama perjalanan akan terbayar dengan pemandangan cantik di tempat ini yang menggabungkan keindahan arsitektur tradisional Bali dengan fenomena alam yang tenang dan spiritual.

Pura tersebut dikelilingi dengan adanya pepohonan rindang sehingga menambah kesan sakral dan asri.

Tempat tersebut sangatlah cocok dalam menenangkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, memberikan ruang untuk pengunjung dalam merenung dan memulihkan energi batin.

Selain itu, kondisi yang khusyuk dan damai menjadikan pura tersebut sebagai tempat yang ideal dalam introspeksi dan refleksi spiritual.

Area penglukatan berlokasi di bagian luar pura atau jaba pura. Di sini ada kolam yang luas dengan beberapa pancoran suci yang berhiaskan patung-patung sakral, dikenal sebagai Pancoran Panca Dewata.

Pancoran-pancoran tersebut melambangkan 5 dewa utama menurut ajaran agama Hindu, seperti Dewa Brahma, Siwa, Mahadewa, Iswara, Wisnu.

Air yang mengalir dari pancoran tersebut sangatlah jernih karena langsung berasal dari sumber mata air alami di area pura.

Kejernihan air ini bukan hanya sebagai simbol kesucian, namun juga memberikan sensasi menyegarkan untuk tubuh dan pikiran. Banyak pengunjung yang merasa terhubung secara spiritual setelah melukat di tempat ini.

Setiap pancoran mempunyai makna simbolis yang ditandai dengan aksara suci, diantaranya sebagai berikut.

  1. Pancoran “Ang”

Pancoran “Ang” menghasilkan tirta mahatirta, berdasarkan kepercayaan memberikan kekuatan spiritual serta ketenangan batin.

Air dari pancoran tersebut sering digunakan kepada orang-orang yang memerlukan dorongan semangat dan kepercayaan diri dalam menghadapi permasalahan kehidupan.

  1. Pancoran “Bang”

Pancoran “Bang” mengeluarkan tirta kamandalu, yang diyakini mempunyai kekuatan dalam melepaskan dosa dan beban batin, sebagai individu merasa lebih ringan dan bebas.

  1. Pancoran “Ing”

Pancoran “Ing” mengalirkan tirta pawitra, yang memiliki fungsi dalam membersihkan segala hal negatif atau menciptakan harmonisasi untuk kehidupan seseorang.

  1. Pancoran “Sang”

Pancoran “Sang” menghasilkan tirta sanjiwani yang melambangkan penglukatan, adalah pembersihan diri secara menyeluruh dari energi negatif.

  1. Pancoran “Tang”

Pancoran “Tang” menghasilkan tirta kundalini, yang melambangkan sebagai pemunah menjadi keburukan, membersihkan jiwa dari pengaruh-pengaruh buruk yang menjadi penghambat spiritualitas dari seseorang.

Ritual penglukatan menggunakan kelima tirta tersebut bisa menciptakan pengalaman yang mendalam, di mana setiap aliran air yang menyentuh tubuh seolah-olah membawa makna spiritual yang mendalam.

Wisatawan yang melukat juga bisa membawa tirta yang berasal dari pancoran tersebut untuk kebutuhan pribadi usai dipandu oleh jero mangku, yang menjelaskan tentang makna dari setiap pancoran dan melakukan bimbingan kepada proses penglukatan.

Ritual tersebut biasanya awalnya dengan memohon izin ke tempat suci memakai banten pejati atau canang sederhana.

Proses tersebut bukan hanya membersihkan tubuh secara spiritual, namun juga menanamkan rasa syukur mengenai karunia alam yang suci serta melimpah.

Selain Pancoran Panca Dewata, ada juga tiga pancoran suci lainnya yang mengalir dari patung naga, yaitu Naga Basuki, Ananta Boga, dan Taksaka.

Air yang berasal dari pancoran tersebut bukan digunakan dalam penglukatan, namun dalam menyucikan pralingga dan tirta upakara digunakan sebagai ritual suci.

Ketiga pancoran tersebut merupakan simbol harmonisasi dan perlindungan yang bisa memperkuat aura spiritual yang ada di sekitar pura.

Kehadiran patung-patung naga tersebut juga dianggap sebagai elemen artistik untuk menambah daya tarik visual dari pura tersebut.

Masing-masing naga dilambangkan melalui aspek penting yang berasal dari kehidupan, meliputi: Basuki bagi keberkahan, Ananta Boga sebagai kesejahteraan, dan Taksaka yang merupakan perlindungan.

Pura Pasiraman yang berada di Desa Aan dianggap sebagai tempat yang bukan hanya menyuguhkan keindahan alam dan arsitekturnya saja, namun juga memberikan pengalaman spiritual yang berharga.

Dengan berbagai keunikannya, Pura Pasiraman merupakan bagian terpenting sebagai identitas Desa Aan yang saat ini merupakan desa wisata.

Bukan hanya bagi umat Hindu yang bisa merasakan manfaat spiritual dari tempat tersebut, namun wisatawan dari berbagai daerah juga bisa menikmati keindahan dan kedamaian yang ada di Desa Aan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *