Oktober 15, 2026
42

potret Desa Tenganan Bali dengan keunikannya (Sumber foto: Instagram/@dwipayanaari)

Balidalamberita.com, DENPASAR – Desa Adat Tenganan atau disebut juga dengan Tenganan Pegeringsingan adalah salah satu dari berbagai desa kuno yang berada di Pulau Bali.

Lokasi dari desa tersebut berada di Kecamatan Manggis atau sekitar 17 km.

Lokasi Desa Adat Tenganan Pegeringsingan berada di Kecamatan Manggis atau sekitar 17 km yang berjarak dari Kota Amlapura ibukota kabupaten.

Desa ini memiliki jarak 5 km dari wilayah pariwisata Candidasa dan berada di sekitar 65 km yang berada di Kota Denpasar.

Desa Adat Tenganan dianggap sebagai salah satu destinasi wisata budaya.

Desa ini mempunyai banyak sekali keunikan yang sangat berbeda dari tempat lainnya.

Lantas apa saja keunikan dari Desa Tenganan? Simak penjelasan lengkapnya ada di bawah ini.

  1. Menjadi Destinasi Wisata

Desa Adat Tenganan selalu mengedepankan adat istiadat dan kebudayaan yang ada di desa Bali Aga (pra Hindu) sehingga kebudayaan menjadi daya tarik yang baik dalam sektor wisata.

Tidak banyak yang memahami jika keindahan alam dari desa tersebut memiliki potensi yang luar biasa sebagai destinasi wisata alternatif untuk jalur trekking ketika melewati jalan desa, bukit, dan persawahan.

Pada jalur trekking yang ukurannya pendek tersebut bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih sekitar 3-4 jam.

  1. Hukum Adat

Sementara berkaitan dengan sistem kekeluargaan yang ada di Bali yakni menganut sistem endogamy sehingga penduduk setempat mempunyai kaitan yang erat dengan awig-awig (hukum adat).

Pada hukum adat ini, mengatur tentang pernikahan yang bisa dilakukan bersama dengan sesama warga Desa Adat Tenganan.

Jika hal tersebut dilanggar maka masyarakat tersebut tidak diperbolehkan dijadikan sebagai krama (masyarakat) desa yang berarti jika ia diharuskan keluar dari Desa Tenganan.

  1. Kerajinan Tenun

Kerajinan tenun bernama double ikat kain Gringsing adalah salah satu keunikan dari desa ini.

Kata Gringsing tersebut sendiri asal muasalnya dari kata “gering” yang artinya adalah sakit ataupun musibah.

Sementara “sing” yang memiliki arti tidak, maka dapat dikatakan secara lebih luas berarti gringsing merupakan penolak bala.

Proses pembuatan dari kain gringsing dianggap sangat unik dan membutuhkan waktu yang lama (prosesnya sekitar 3 tahun).

Keberadaan dari kain ini dianggap sangat langka, bahkan harga kainnya saja dianggap sangat mahal.

Kain gringsing menjadi bagian dari perlengkapan pada upacara penting, misalnya: upacara ngaben atau upacara pembakaran dari jenazah, pada prosesnya kain gringsing diletakan di pucuk badé (tempat untuk mengusung mayat tersebut).

Sementara dalam upacara potong gigi, gringsing dipakai menjadi alas bantal.

Banyak cerita bermunculan di tengah masyarakat yang mengatakan jika darah manusia dipergunakan pada pemberian warna dalam benang yang nantinya digunakan karena kain gringsing didominasi menggunakan warna merah.

Tetapi yang sebenarnya terjadi jika bahan-bahan pewarna tersebut diketahui berasal dari getah-getah kayu dan biji kemiri yang kemudian diramu dan dijadikan sebagai pewarna.

  1. Tradisi Ritual

Tradisi ritual Mekare-kare atau yang disebut dengan perang pandan adalah puncak dari prosesi upacara Ngusaba Sambah yang diselenggarakan sekitar 30 hari pada Bulan Juni setiap tahunnya.

Selama 1 bulan penuh, tradisi ini biasanya diadakan 2-4 kali.

Pada penyelenggaraannya maka akan dihaturkan berupa sesajen yang ditunjukan bagi para leluhur.

Mekare-kare diikuti oleh sejumlah lelaki dari umur anak-anak hingga orang tua.

Sesuai dengan namanya, maka pada tradisi menggunakan daun pandan yang kemudian dipotong-potong sekitar 30 cm yang dijadikan sebagai senjata atau tameng.

Senjata tersebut berfungsi sebagai penangkis serangan lawan yang berasal dari geretan duri pandan.

Luka yang dikarenakan oleh geretan duri pandan kemudian dibalur menggunakan penawar yang terbuat dari ramuan umbi-umbian, misalnya laos, kunyit, dan lain sebagainya.

Mekare-kare memiliki makna yang sama dengan upacara pada tabuh rah yang sangat lazim dipergunakan oleh umat Hindu di Bali dalam menyelenggarakan upacara keagamaan.

Pada upacara Mekare-kare tersebut biasanya diiringi bersama tetabuhan yang sangat khas dari desa ini, bernama gamelan selonding.

  1. Sistem Kemasyarakatan

Perkembangan sistem kemasyarakatan, jika masyarakat Desa Adat Tenganan terdiri atas masyarakat asli di daerah setempat.

Hal tersebut karena adanya sistem perkawinan yang dipercaya sebagai sistem parental di mana wanita atau laki-laki pada keluarga mempunyai derajat yang sama, tanpa membeda-bedakan, dan berhak memiliki status sebagai seorang ahli waris.

Itulah tadi keunikan dari Desa Adat Tenganan yang wajib dipahami oleh sebagian masyarakat baik penduduk lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke desa di Bali ini.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *