Oktober 15, 2026
Ilustrasi. Tradisi Siat Sambuk, Perang Serabut Kelapa di Bali (Sumber foto: ebornprojectmedia)

Balidalamberita.com, TABANAN – Satu hari sebelum datangnya hari raya Nyepi, tepatnya saat hari pangrupukan menjelang matahari tenggelam, terdapat sebuah tradisi yang berasal dari Banjar Pohgending, Desa Pitra, Kecamatan Penebel, Tabanan, bernama “Siat Sambuk” atau disebut juga sebagai Perang Serabut Kelapa.

Sejak tahun 1995, ritual Siat Sambuk sudah mengadopsi strategi perang modern.

Pada tradisi tersebut, ada dua pasukan utama: pasukan “Serbu” yang memiliki tanggungjawab dalam melempar lawan.

Kemudian ada juga pasukan “Logistik” yang membawa sambuk dan telah dibakar dalam menjadikan senjata oleh pasukan “Serbu”.

Pasukan Siat Sambuk terdiri atas dua kelompok, adalah Wong Kaja (kelompok utara) dan Wong Kelod (kelompok selatan).

Kedua kelompok tersebut sudah menyiapkan amunisi meliputi tumpukan sambuk yang telah dibakar.

Pada suasana yang dipenuhi rasa semangat, para peserta muda-mudi yang ikut pada tradisi ini saling melemparkan sambuk yang menyala, serta diiringi oleh irama gambelan Bale Ganjur.

Tradisi tersebut diwarnai dengan adanya semangat perang, uniknya, tidak ada luka dan kebakaran yang ada pada ritual tersebut.

Tradisi ini bukan hanya menjadi warisan dari leluhur, tetapi juga dipercayai menjadi sarana dalam menolak bala atau menetralisir hal-hal negatif pada lingkungan desa.

Setelah ritual ini selesai, maka seluruh pasukan berkumpul di pertigaan desa. Mereka saling memberikan tirta, saling salaman, dan merangkul diantara satu sama lainnya, seakan-akan tidak terjadi pertempuran yang terjadi di sana.

Tradisi Siat Sambuk merupakan salah satu bukti yang nyata dari kekayaan budaya Bali yang senantiasa dijaga dan dilestarikan hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *