Oktober 15, 2026
Ilustrasi. Kain Saput Poleng yang bermotif hitam putih dari Bali sedang digunakan oleh para penari tari kecak (Sumber foto: Tripadvisor)

Balidalamberita.com, BADUNG – Jika ke Bali tentunya sudah tidak asing lagi melihat warga sekitar mengenakan kain dengan motif hitam putih yang dikenal dengan nama saput poleng.

Penggunaan kain saput poleng memiliki hubungan yang erat dengan adat istiadat dan kepercayaan warga Hindu Bali.

Selain itu, pemakaian kain tersebut mempunyai makna serta fungsinya tersendiri.

Fungsi Saput Poleng

Saput poleng dipakai ketika upacara keagamaan dari umat Hindu, bukan hanya mengenai upacara keagamaan saja, namun saput poleng juga dipakai sebagai atribut dari suatu pura, bendera (umbul-umbul), dan bahkan penghias patung di mana kain tersebut dililitkan menjadi kamen.

Bukan hanya dikenakan ketika upacara atau dianggap benda sakral saja, saput poleng juga dapat dipakai menjadi atribut pertunjukan kesenian dan bahkan menjadi pakaian adat Bali.

Atribut kain tersebut juga banyak digunakan di Hotel-hotel Bali karena mereka menggunakannya untuk dijadikan hiasan.

Selain itu, para pecalang yang bertugas juga banyak memakai kain ini sebagai salah satu identitas dalam menjaga keamanan tradisional di Bali.

Filosofi Saput Poleng

Saput poleng merupakan simbol dari dua sifat namun bertolak belakang yang berarti hitam-putih, jelek-baik, rendah-tinggi, dan lainnya.

Saput poleng menyerupai pola catur tersebut dianggap sebagai simbol Rwa Bhineda.

Keyakinan tersebut merupakan konsep keseimbangan yang terjadi karena hal baik atau buruk, dua hal yang berbeda namun tidak terpisahkan.

Ada berbagai jenis kain poleng, seperti kain poleng sudamala dengan motif hitam, putih, atau abu-abu.

Warna abu-abu memiliki fungsi menjadi penyelaras dari kain hitam-putih yang merupakan simbol Rwa Bhineda. Selanjutnya, saput poleng tridatu yang menggabungkan warna merah, hitam, putih.

Filosofi saput poleng tersebut merupakan lambang dari ajaran Hindu, adalah Triguna, yang terdiri atas satwam (kebijaksanaan) yang identik berwarna putih, rajah (energi) yang berwarna merah, dan tamah (penghambat) yang memiliki warna hitam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *