Oktober 15, 2026
Black Friday Bali 2025

Ilustrasi Black Friday (Istimewa)

Saat itu, Jumat (2/5) masyarakat Bali sedang sibuk mempersiapkan perayaan Hari Suci Kuningan yang akan jatuh pada keesokan harinya Sabtu (Saniscara Kliwon Wuku Kuningan).

Aktivitas lebih padat dari hari normal, pasar tradisional dari pagi sudah sibuk dengan pembeli yang berlalu – lalang. Jalanan juga dipenuhi oleh Krama Bali dengan segala aktivitas dan euforianya menyambut hari suci yang sakral.

Tiba-tiba, tanpa pemberitahuan apapun, pet! sekitar Pukul 16.31 wita listrik padam. Saat itu, penulis sedang berada di perjalanan dan hendak singgah di sebuah minimarket di jalan utama Denpasar-Gilimanuk.

Pegawai minimarket buru-buru menyampaikan bahwa minimarket tidak bisa beroperasi karena listrik mati dan sistem kasir tidak bisa dipergunakan. Terlihat juga keriuhan beberapa pegawai mencoba menyalakan dan meng – otak atik sebuah mesin Genzet yang sepertinya ngadat karena lama tidak terpakai.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada Jumat yang selanjutnya penulis sebut dengan istilah Black Friday tersebut?

Dalam kondisi normal, kapasitas atau daya mampu listrik di Bali saat ini sebenarnya mencukupi, meskipun dengan cadangan (reserved) energi listrik yang sangat terbatas, yakni hanya 14%.

Sebagai daerah utama tujuan wisata dunia, cadangan sebesar itu tentu saja bisa menjadi semacam bom waktu dari aspek ketahanan energi.

Daya mampu energi listrik di Bali saat ini adalah sebesar 1.388 MW. Kapasitas ini harus menanggung beban puncak tertinggi yang terjadi di tahun 2024 sebesar 1.187 MW.

Melihat data tersebut, Bali masih memiliki energi cadangan (reserved energy) sebesar 201 MW atau sekitar 14%. Data ini sepertinya cukup aman, jika di lihat secara sekilas.

Namun, pandangan kita pasti akan berbeda jika mengetahui bagaimana sebaran daya mampu dari setiap pembangkit energi listrik, yang turut andil terhadap terjadinya Black Friday pada (2/5) lalu.

Dari data yang dikumpulkan penulis, kabel laut (SKLT) yang disuplai dari pembangkit listrik Paiton memiliki daya terpasang 400 MW dengan daya mampu 270 MW, atau menyuplai kurang lebih 23% dari total beban puncak pemakaian listrik di Bali.

Sesuai informasi bahwa black out terjadi akibat terhentinya salah satu sistem pembangkit Paiton yang bertugas khusus menyuplai energi listrik ke Bali melalui kabel laut, maka penulis yakin, kehilangan kurang lebih 23% daya listrik, akan memberikan tekanan besar pada sistem mesin pembangkit lain, yang ujungnya menimbulkan permasalahan sistemik di hampir seluruh pembangkit listrik yang ada di Bali.

Black Friday! Penulis bisa membayangkan bagaimana ketegangan terjadi di internal Manajemen PLN baik di Bali, hingga PLN Pusat.

Kondisi ini, meskipun telah menjadi kekhawatiran semua pihak sejak dari jauh-jauh hari, namun bukanlah kejadian yang disiapkan antisipasinya dalam prosedur penanganan resiko internal. Karena kondisi ini adalah sebuah kejadian luar biasa (KLB), yang sangat dihindari.

Namun, menghadapi kejadian luar biasa (KLB) seperti black friday tersebut, kita patut memberikan apresiasi setinggi tingginya kepada jajaran Manajemen PLN Bali, karena telah mampu bergerak cepat dalam penanganan krisis, sehingga normalisasi berangsur dapat dilakukan mulai 3 jam pertama, hingga normalisasi total kurang dari 12 jam setelah kejadian.

Black Friday ini betul-betul menyedot perhatian berbagai kalangan. Gubernur Bali, langsung melakukan langkah-langkah strategis melalui koordinasi, hingga turun langsung meninjau aktivitas normalisasi sistem bersama jajaran Manajemen PLN Bali.

Direktur Utama PLN dan Direktur di kantor pusat PLN, juga secara langsung ikut meninjau, sekaligus bertemu dengan Gubernur Bali dan stakeholder lainnya di Bali.

Pihak Istana Negara bahkan juga ikut memberikan komentar, pujian terhadap langkah cepat PLN Bali, dan sekaligus meminta maaf atas kejadian black out yang terjadi.

Tidak ketinggalan, Anggota DPR RI juga memberikan berbagai bentuk tanggapan terhadap situasi dan kondisi yang terjadi. Ada yang serius memikirkan tentang ketahanan energi di Bali, namun juga ada yang sekedar numpang panggung untuk mencari popularitas.

Obrolan mengenai kondisi black out ini penulis yakini terjadi di berbagai level. Mulai dari masyarakat kecil di emperan warung, hingga gedung politikus di Jakarta.

Banyak komentar dari pengamat dan ahli di media massa maupun media sosial yang menyoroti tentang kondisi yang terjadi.

Beberapa dari opini tersebut, menyoroti tentang pentingnya kemandirian energi di Bali.

Penulis melihat, kemandirian energi ini, tidak hanya sekedar penting, tetapi juga sangat mendesak untuk segera diwujudkan.

Bali yang saat ini cukup terkoyak citranya atas permasalahan sampah, kerawanan sosial, premanisme dan berbagai permasalahan yang membawa citra negatif secara nasional maupun internasional, seolah dibunuh dengan tusukan terakhir atas kejadian black out pada Black Friday kemarin.

Padahal sebagai daerah tujuan wisata dunia, citra positif yang menjamin keamanan dan kenyamanan adalah faktor maha penting.

Kejadian black friday yang terjadi kemarin, sekali lagi telah menusuk Bali untuk kesekian kalinya.

Apa yang mesti dilakukan?

Langkah-langkah strategis, sudah terus diupayakan pemerintah daerah Provinsi Bali melalui Bapak Gubernur Bali untuk mereduksi berbagai masalah tersebut. Tidak terkecuali mengenai kemandirian energi di Bali.

Momen black friday adalah sebuah pelecut dan dorongan kuat untuk segera dalam waktu singkat memastikan jaminan ketahanan energi melalui kemandirian listrik.

Menurut pandangan penulis, saat ini dalam kondisi yang sangat urgent dan berhubungan langsung dengan kondisi ekonomi Bali yang belum begitu normal, maka pertimbangan utama mengenai kemandirian energi, bukan kepada energi alternatif.

Negara China dengan sumber daya alam yang melimpah, uang dan sumber daya manusia yang cukup saja, masih membutuhkan waktu lebih dari 30 tahun untuk menciptakan sumber energi alternatif yang berbasis green energy .

Bali dengan sumber daya alam yang terbatas, penulis kira belum bisa memastikan mampu membangun infrastruktur yang memadai hingga 25 tahun kedepan.

Boleh saja, pemikiran mengenai green energy dan upaya pembangunan bertahap dimulai sedikit demi sedikit, sambil mempelajari kelemahan berbagai aspek penunjang. Namun, jika kemudian dipaksakan dengan tiba-tiba dan waktu yang pendek, maka bisa saja itu menjadi blunder baru bagi ketahanan energi yang berimbas pada masyarakat langsung, pariwisata dan akhirnya akan mengoyak perekonomian Bali sendiri.

Black Friday! Sekali lagi adalah alarm peringatan kuat bagi PLN untuk segera melakukan langkah cepat untuk ketahanan energi listrik di Bali sekaligus menggugah pemerintah daerah untuk arif dan bijak dalam menyikapi situasi dan kondisi serta mengambil kebijakan berkaitan dengan aspek ketahanan energi.

Penting untuk memastikan green energy menjadi solusi bagi Bali jangka panjang, tetapi jauh lebih penting untuk menjaga ketahanan energi jangka pendek dan menengah demi kenyamanan masyarakat dan penguatan citra pariwisata Bali yang menjadi tiang penyangga utama perekonomian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *