Desa Adat Angantaka di Badung, Bali, dikenal karena menjaga nilai adat dan budaya leluhur. Simak sejarah, struktur sosial, hingga keindahan alamnya yang memikat.
Balidalamberita.com, BADUNG – Desa Adat Angantaka di Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, menjadi salah satu desa adat yang terus menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat istiadat warisan leluhur.
Struktur Sosial Desa Adat Angantaka
Desa ini terdiri dari empat banjar, yaitu Banjar Dalem, Banjar Desa, Banjar Puseh, dan Banjar Kekeran. Masing-masing banjar memiliki peran penting dalam struktur sosial masyarakat.
Menariknya, wilayah ini mencakup dua desa adat, yaitu Desa Adat Angantaka dan Desa Adat Kekeran. Keduanya masih melestarikan warisan leluhur sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Sejarah Berdirinya Desa Adat Angantaka
Sejarah Desa Adat Angantaka bermula sekitar abad ke-18 (tahun 1750 menurut kalender Saka). Kala itu, Ida I Gusti Ngurah Gede Abyan bersama para pengikutnya meninggalkan Puri Blahbatuh akibat konflik internal.
Mereka kemudian menemukan kawasan hutan yang kemudian dibuka dan dijadikan pemukiman baru. Lokasi inilah yang kini dikenal sebagai Desa Angantaka. Nama “Angantaka” berasal dari kata “Ngentak” yang berarti “panas”, menggambarkan suasana batin saat mereka meninggalkan tempat asal.
Keindahan Alam yang Menenangkan
Desa Adat Angantaka menyuguhkan pemandangan persawahan hijau yang menyejukkan. Alamnya yang asri menjadikan desa ini tempat yang ideal untuk merasakan suasana pedesaan khas Bali.
Pelestarian Budaya dan Tradisi Leluhur
Warga Desa Adat Angantaka rutin menggelar upacara adat yang menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Tradisi ini mencerminkan rasa hormat kepada para dewa dan leluhur.
Tak hanya itu, masyarakat juga aktif melestarikan kesenian tradisional seperti tari Bali dan musik gamelan. Generasi muda di desa ini turut belajar dan mempertahankan warisan budaya tersebut.
Desa Adat Angantaka menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat Bali mampu mempertahankan budaya leluhur tanpa mengabaikan perkembangan zaman. Mengunjungi desa ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pelajaran berharga tentang kehidupan yang harmonis dan berakar pada nilai budaya.
