Foto: Ilustrasi Desa Penglipuran (Instagram/@feeeeraaa)
Balidalamberita.com, DENPASAR – Tahukah kamu ternyata di Bali ada sebuah desa yang dianggap sebagai desa adat terbersih yang dinobatkan oleh UNESCO.
Lokasi yang dimaksud tersebut yaitu Desa Penglipuran yang berlokasi di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.
Menariknya lagi, desa ini tidak hanya memperoleh penghargaan sebagai desa terbersih di dunia, namun desa ini juga pernah memperoleh penghargaan lain misalnya seperti Kalpataru, Indonesia Sustainable Tourism Award, dan hingga mendapatkan Top 100 Sustainable Destination.
Lalu apa makna dari Penglipuran yang menjadi sebuah Nama Desa? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Makna Desa Penglipuran
Secara etimologis, nama Desa ini mengandung arti pengeling atau eling yang diartikan sebagai ingat dan mengingat.
Sementara kata pura bermakna tempat, benteng, dan tanah leluhur.
Kata penglipuran berarti memiliki makna yaitu: ingat kepada tanah leluhur atau tempat asal muasalnya.
Selain itu, masyarakat menyebut penglipuran yang berasal dari kata pelipur ataupun lara, yang bisa diartikan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu: menghibur di kala duka.
Menurut UNESCO, Desa ini dianggap sebagai desa adat terbersih rangking ke-3 di dunia.
Ketika mengunjungi tempat ini, Anda akan menemukan parit saluran air di kanan kiri dengan lebar 50 cm di sepanjang jalan yang dilengkapi dengan sanitasi yang begitu lancar.
Selain itu, desa tersebut juga dikenal mempunyai tata ruang yang dikenal sebagai “Tri Mandala”.
Diketahui Desa tersebut terbagi ke dalam tiga daerah, seperti: Utama Mandala, Madya Mandala, dan hingga Nista Mandala.
Utama Mandala dianggap sebagai wilayah suci bagi para dewa serta untuk peribadatan.
Madya Mandala ini merupakan tempat tinggal bagi penduduk desa tersebut.
Sedangkan, Nista Mandala dijadikan area khusus untuk pemakaman bagi penduduk desa tersebut.
Melansir dari buku “Desa Swabudaya Penglipuran” oleh Nata Citta Desa Swabudaya, Desa Penglipuran dianggap desa adat karena kegiatan adat hingga aktivitas keagamaan yang bermacam-macam dan rutin diadakan setiap 6 bulan bahkan 1 tahun sekali.
Seperti Upacara Ngusaba Paruman yang merupakan upacara khusus bagi penduduk yang diselenggarakan setiap purnama kapat (hari baik dalam bersedekah) menjadi persembahan bagi Dewa Brahma dan Dewa Wisnu.***
